"MENGAPA TIDAK?" Kel 17:8-13; 2Tim 3:14-4:2; Luk 18:1-8 Kalau mendengar sendiri cerita para orangtua tentang usaha mereka menyekolahkan anak-anaknya, kita akan terenyuh. Sungguh mengharukan. Mereka mau melakukan apa saja, menjual barang berharga, mengantri di sekolah favorit sejak pagi, menghubungi guru atau dosen yang dikenal, meminta tolong terus ke panitia penerimaan (maha)siswa baru, dsb. Itu semua bukan hal kecil! Dibutuhkan kerendahhatian, kerelaan, kesetiaan, dan kekuatan yang besar sekali. Para murid dan mahasiswa yang sekarang tinggal menikmati bangku sekolah dan kuliah itu seharusnya mengingat setiap hari perjuangan yang meluluhkan kalbu ini. Tapi sebaliknya, banyak juga kisah orang zaman ini yang begitu cepat menyerah padahal baru satu kali mencoba dan tak berhasil. Terlalu cepat orang mengatakan, "Ya sudahlah", dengan wajah pura-pura tak peduli. Gengsi! Ini bukan soal 'coba-coba' belaka. Ini seringkali menyangkut hal yang sangat penting dan mendesak, namun betapa kuat gengsi itu mempengaruhi dan mendorong hingga orang bersikap seakan-akan tak membutuhkan, atau tak sudi meminta lagi. Ditolak dan 'dibiarkan' itu tidak menyenangkan. Dan orang merasa berhak bereaksi 'membalas'. Tapi di balik semua itu, yang didamba dan diperlukannya tetap juga tidak terwujud. Padahal hanya perlu berusaha lagi. Mengesankan, kisah Yesus hari ini. Yesus melukiskan dengan detil, apa yang mungkin terjadi di hati seorang hakim yang lalim, sampai disebutkan bahwa hakim itu mengabulkan permintaan janda itu hanya karena terus "menyusahkan dia". Tapi Yesus sungguh tahu bahwa itu bukan pokok masalahnya. Siapa yang peduli dengan detil yang dipikirkan dalam hati seseorang? Siapa yang pusing dengan motivasi hakim itu? Ya, memang tidak ada. Karena dia memang hakim yang lalim. Karena memang itu tidak penting! Lalu kita dan para murid lain jadi paham, ternyata intinya terletak pada apa "yang dilakukan" janda itu! Perhatian kita sangat cepat terpusat pada sikap dan pikiran hakim yang lalim, namun jadi buyar untuk menangkap usaha keras si janda yang menggetarkan hati itu. Janda itu dikisahkan "selalu datang" dan meminta supaya hakim membela haknya. Bukankah seorang hakim memang harus membela hak orang benar? Jadi itu memang pekerjaannya! Jadi memang orang harus datang dan 'minta untuk dibela'! Itu, rupanya, problem kita. Kita tidak datang pada siapapun dan tidak minta dibela soal apapun. Kita acapkali terlalu yakin dengan kekuatan sendiri, terlalu gengsi masalah kita ini diketahui orang lain, terlalu menjaga gambaran diri yang sebetulnya juga tidak hebat-hebat amat. Pada saat seperti itu, baik bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri: apa 'sih' ruginya kita mencoba lagi? Apa 'sih' susahnya meminta tolong dengan rendah hati ke orang lain untuk kedua, ketiga, kesepuluh kalinya? Apa 'sih' beratnya datang lagi kepada seseorang kendati seakan-akan tidak dipedulikan, dianggap menyusahkan, bahkan dikira punya maksud buruk atas dirinya? Tidak ada yang susah dan berat untuk itu semua! Yang mungkin susah adalah mengalahkan kesombongan dan sikap reaktif kita sendiri. Tapi bukan berarti tidak bisa. Kalau Musa pada waktu itu merasa risih atau terganggu dengan Harun dan Hur yang membantu menopang kedua belah tangannya, Israel tidak akan menang melawan Amalek. Musa harus memahami bahwa dirinya sendiri tidak akan kuat bertahan, memegang tongkat Allah di tangannya di atas bukit. Ia harus memahami bahwa Harun dan Hur itu berusaha melakukan apapun agar tangannya tetap terangkat dan Israel mendapat kekuatan dari Allah karena melihat tongkat-Nya. Tidak ada yang mempertanyakan segala daya upaya mereka itu karena kenyataannya itu memang mendatangkan kuasa Allah Mahatinggi. Demikian pula, kalau kita ditanya orang, mengapa terus juga berdoa dan memohon, terus terusan mendaraskan novena, mungkin bertahun-tahun meminta hal yang sama, maka seharusnya kita itu balik bertanya: "Mengapa tidak?" Kalau kita sungguh yakin bahwa permintaan kita itu sungguh-sungguh kita butuhkan demi hidup yang kita jalani ini, apapun juga akan kita lakukan supaya Tuhan berkenan mengabulkannya. Ada sementara orang yang tiba-tiba merasa 'tidak enak' karena doanya kok selalu meminta dan meminta, seakan-akan terus menerus 'merepotkan' Tuhan dengan permintaan mereka itu. Tapi sekali lagi, mau apa kita dengan detil-detil ilahi semacam itu? Mengapa pusing dengan pikiran Tuhan yang jelas tidak akan kita pahami? Benar bahwa kita harus percaya pada penyelenggaraan Tuhan, tetapi juga harus berani minta dan berusaha melakukan apapun agar Tuhan berkenan. Meskipun begitu, mari kita tetap jeli atas beberapa perbedaan, yakni antara sikap rendah hati dan manipulasi, antara kerelaan dan maksud tersembunyi, antara perjuangan dan pemaksaan. Bagaimanapun Yesus sudah meyakinkan kita bahwa Allah tidak akan berlambat, jika kita sungguh-sungguh berusaha melakukan apapun yang masih bisa dilakukan, dan tidak terlalu gengsi untuk selalu mencoba lagi. Kalau itu semua masih bisa kita usahakan, mengapa tidak? Amin. Pst. H. Tedjoworo OSC |
