"ANTARA HIDUP DAN PERUT"
Kel 16:2-4.12-15; Ef 4:17.20-24; Yoh 6:24-35

Kadang-kadang, adalah hal yang menarik mengamati siapa saja yang suka
'berkunjung' ke dapur. Rupa-rupanya, bukan koki yang berkuasa di sana. Lebih sering, yang kelihatan sibuk, dan kelihatan penting, adalah orang-orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan masak memasak. Alhasil, jika kita sekali waktu bertanya kepada koki, mungkin akan segera keluar keluhan-keluhannya terhadap mereka yang datang ke dapur hanya untuk mengganggu pekerjaannya. Sayangnya, mereka ini pun tak sadar sudah mengganggu orang.

Demikian juga, mereka yang 'suka' masuk ke dapur itu kebanyakan bukan karena lapar. Kebanyakan punya motivasi yang bukan soal perut. Mungkin ada 'lapar' jenis lain, karena merasa kesepian di kamar, karena berharap bertemu teman, karena ada sosok yang diharapkan ditemui di sana, karena menghindari pekerjaan yang tak selesai-selesai, karena ingin berkuasa di sebuah tempat. Sebut saja. Mungkin orang lupa, dapur adalah tempat yang menyangkut kehidupan, tapi dianggap sekedar tempat memasak. Dan ironisnya, orang mencari-cari sesuatu yang bukan soal hidup di sana, tapi hanya menyangkut kepuasan, kesenangan, pelampiasan.

Waktu itu banyak orang mengejar-ngejar Yesus dan para murid-Nya sampai ke Kapernaum, di seberang laut. Semangat sekali! Tapi semangat ini mencurigakan. Yesus segera menangkap semangat oportunistis itu, dan menegur mereka dengan pedas, supaya bekerja, mencari rezeki untuk hidup yang kekal. Tak mau kalah, mereka bereaksi dan minta tanda yang membuat Yesus berhak menegur mereka seperti itu. Dan Yesus membongkar hedonisme jasmani mereka, mengajak untuk jujur terhadap realitas yang lebih menyakitkan: lapar akan Tuhan.

Injil Yohanes akan mengingatkan kita, bahwa kepercayaan akan Yesus sebagai roti sumber hidup tidak hanya mengundang percaya, tapi juga kekecewaan dan reaksi tak suka. Kenyataannya, tidak mudah menerima Dia sebagai satu-satunya sumber hidup, makanan rohani yang mengenyangkan. Bukan hanya orang-orang waktu itu, tapi kita juga, sering merasa tidak cukup dengan apa yang sudah didapat dari Yesus, lantas mengejar apa yang tidak semestinya kita cari dari-Nya. Susahnya, kita itu mencari kepuasan, bukan keabadian.

Teguran Yesus itu seakan-akan berbunyi, "Engkau sudah kenyang oleh roti dan ikan, tapi kalau hanya untuk itu datang ke sini, engkau mencari di tempat yang salah." Orang-orang ini tidak berpikir mengenai hidup mereka. Mereka hanya berpikir soal perut. Dan 'perut' adalah kesenangan, kepuasan, dan keuntungan yang bisa didapatkan saat ini. Ini masih jauh dari sikap serius untuk melihat dan menghargai hidup!

Perhatikanlah bacaan pertama dari Kitab Keluaran. Orang-orang Israel menggerutu karena merasa dijebak oleh Musa hingga berada di padang gurun tanpa makanan yang mencukupi. Isi kepala mereka hanya soal makan kenyang, sampai-sampai menuduh Musa hendak membunuh mereka karena kelaparan. Hal yang lebih penting, yakni kebebasan dari Mesir, dan masa depan sebagai bangsa yang merdeka, kalah oleh bayangan kuali penuh daging yang mereka hadapi saat masih jadi budak di Mesir! Maka Tuhan menurunkan makanan yang akan membuat mereka bertanya-tanya, "Apakah ini?" (Ibr. 'manna'). Ya, mereka ini hanya akan 'kenyang' jika mereka percaya bahwa embun beku ini adalah sungguh-sungguh makanan, sumber hidup dari Tuhan.

Sering terjadi, kita itu mencari-cari dan berdebat mengenai hal-hal yang kurang penting. Kita sibuk, bekerja keras, menikmati hari, menjalankan tugas, menghabiskan uang, menghabiskan waktu, tetapi untuk hal-hal yang tidak membuat kita lebih berterima kasih atas hidup yang kita dapatkan ini, lebih dekat pada Dia yang membuat hidup kita masih pantas untuk disyukuri
sampai saat ini. Kita masih mengejar-ngejar hal-hal yang menyenangkan saja, termasuk semua yang duniawi dan gemerlapan itu, dan itu juga bahkan terjadi ketika kita berdoa, melayani, dan berkumpul bersama saudara-saudari seiman. Betulkah hanya kepuasan dan kesenangan macam itu yang kita cari?

Ketika terus mencari-cari hal-hal yang bukan soal hidup, kita seperti orang yang masuk di tempat yang salah di Gereja. Mungkin bahkan kita hanya merepotkan orang-orang yang berada di sana, karena mementingkan hal-hal yang memuaskan diri kita saja. Menjadi pengikut Kristus seharusnya membuat kita lebih jujur, apa sebetulnya yang kita cari di sini? Apa yang kita cari dalam diri Yesus? Apa yang kita harapkan dari saudara-saudari kita di sana?

Sebelum menjawabnya, mari belajar jujur dengan lapar dan haus yang kita rasakan, yang kita alami saat ini. Sekali kita mau jujur terhadap kerinduan kita, kita akan belajar untuk percaya, bahwa banyak peristiwa, sahabat, pekerjaan, dan kesempatan di sekitar kita itu ada di sana supaya kita menemukan Dia yang adalah sumber hidup. Dia adalah roti yang menawarkan diri-Nya untuk kita nikmati di dalam peristiwa, sahabat, pekerjaan, dan kesempatan yang serba riil itu. Temukanlah Dia, dan nikmatilah. Dia akan terus 'mengenyangkan' kita, dan kita pun takkan haus dan lapar lagi. Amin.

 Pst. H. Tedjoworo OSC



"KERAJAAN-NYA ADALAH MIMPI KITA JUGA!"
2Sam 5:1-3; Kol 1:12-20; Luk 23:35-43

Seseorang baru saja sembuh dari sakit berat. Untuk bersyukur atas kesembuhannya, ia ingin sebisa mungkin mengunjungi, menghibur, dan mendoakan orang-orang yang sedang sakit. Kini rasa syukur itu terasa lebih dalam lagi, karena ia sudah mengalami sendiri apa artinya berharap dan berdoa di kala sakit. Suatu kali ia mengunjungi seorang suster yang tubuhnya digerogoti kanker, dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. Ia duduk di samping tempat tidur, ikut merasakan kesakitannya. Di luar dugaan, suster yang menangkapa kerisauannya itu berkata, "Jangan sedih. Sungguh, saya sudah mengalami mukjizat. Dan mukjizat itu bukan berupa kesembuhan, melainkan bahwa saya bisa menerima semua ini dan menanggungnya." Mengagumkan. Bahkan di tepi kehidupan, suster itu masih yakin sudah diselamatkan.

Ada banyak mimpi kita yang dirobek-robek oleh penyakit maupun musibah. Sebagian bahkan terbuang karena sebuah keputusan yang keliru dalam hidup kita. Namun masalahnya, apakah kita membiarkan semua itu hilang tertiup angin? Begitu juga, ada orang yang menyerah justru di saat-saat yang paling sulit hidup mereka, melepaskan apa yang selama ini sudah diperjuangkan mati-matian. 'Nasib' adalah kata berbahaya. Alangkah cepat diucapkan saat mimpi memudar. Lalu bagaimana dengan mereka yang selama ini berbagi mimpi dengannya? Bukankah mereka tetap ingin supaya ia selamat dan sehat kembali? Bukankah mereka tetap menyayangi kendati ia sedang terpuruk?

Olok-olok dan cemooh sarkastis beterbangan di sekitar sosok Yesus yang tersalib. Itu semua diperburuk dengan tulisan "Inilah Raja Orang Yahudi". Tulisan 'raja' ini menjadi inspirasi empuk untuk menghujat Yesus habis-habisan. Sungguh menyenangkan bagi orang-orang itu menjadikan Yesus bulan-bulanan. Mengapa? Karena orang yang disebut-sebut 'raja' ini sudah jatuh dan digantung sebagai penjahat. Orang yang di mana-mana mewartakan Kerajaan Allah ini sudah gagal dan hancur. Kata-katanya sudah jelas tidak terbukti. Kerajaan Allah tak pernah terjadi.

Tapi itu dari sisi mereka yang menyalibkan Yesus. Dari sisi Yesus sendiri? Kerajaan Allah 'sedang' dimulai, saat ini juga. Firdaus 'sudah' ada di sana. Salib adalah tahta-Nya. Duri, mahkota-Nya. Dan salah satu warga pertama kerajaan itu ialah penjahat yang berkata, "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Dan Yesus menjawab, "Hari ini, engkau sudah berada di Firdaus bersama-Ku!"

Kata-kata terakhir Yesus itu menunjukkan bahwa mimpi-Nya akan Kerajaan Allah masih hidup dan menyala-nyala, bahkan di akhir hidup-Nya! Kerajaan itu sudah mulai 'dibangun' sejak Ia mewartakannya di jalan-jalan di Galilea hingga Yerusalem. Itu adalah mimpi-Nya yang takkan dirampas oleh siapapun, sekalipun itu Maut! Ia 'adalah' raja, karena sudah menjaga baik-baik kehendak Sang Bapa, yang sejak semula menginginkan kerajaan itu terwujud di muka bumi.

Sekarang, apa yang terjadi pada mimpi-mimpi kita? Barangkali sudah banyak yang kita lepaskan, karena kita berpikir, sudah tidak mungkin lagi terjadi. Tolong pikirkan kembali! Sekian puluh tahun hidup kita diisi perjuangan yang luar biasa, dan alangkah panjang perjuangan itu berikut penderitaan dan segala sakitnya. Sebagian besar hidup kita 'dihabiskan' untuk mengejar mimpi-mimpi, dengan malam-malam yang gelap gulita dan teriknya siang hari yang penuh dengan peluh. Ingatlah kembali segala pengorbanan dan kehilangan
yang sudah kita jalani itu, dan tanyakan sekali lagi: apakah kita akan melepaskan begitu saja mimpi-mimpi itu 'hanya' karena penyakit ataupun maut?

Ya. Hati kecil kita berteriak, "Tidak akan!" Tidak akan kita lepaskan harapan yang sudah sekian lama kita perjuangkan itu. Dan itulah kemenangan iman. Itulah yang ditunjukkan, diajarkan, oleh Yesus saat tergantung di kayu salib. Itulah juga yang membuktikan bahwa Kerajaan Allah sungguh-sungguh telah dimulai dan semakin berjaya. Kerajaan ini diam-diam meluas ke segala ujung bumi, setiap kali kita menolak untuk menyerah pada 'nasib', melawan godaan untuk bersikap sinis terhadap realitas hidup, membasuh mulut kita dari ejekan dan cemooh atas peristiwa kejatuhan saudara kita sendiri.

Kalau kita masih sering bersikap 'nyinyir' terhadap kelemahan dan kegagalan saudara kita, itu bukti bahwa kita sendiri adalah orang yang gampang menyerah pada nasib. Kalau mulut kita suka 'membocorkan' kejelekan-kejelekan orang, bahkan yang tinggal serumah dengan kita, kepada orang lain, itu bukti bahwa kita memang sudah kehilangan mimpi dan harapan. Kalau kita 'selalu' mengeluh atas salib yang memang harus kita pikul, itu tanda bahwa kita tidak mengerti apa-apa tentang Kerajaan yang diperjuangkan Yesus sampai mati di salib.

Mari kita ingat komentar-komentar buruk di sekitar salib Yesus itu. Kita mengingat kejadian itu, supaya kita sendiri lebih hati-hati, supaya kita menemukan mukjizat keselamatan itu, karena mau memelihara dan terus
memperjuangkan mimpi-mimpi kita. Sebenarnya, kerajaan yang diperjuangkan Yesus itu adalah mimpi kita juga. Harapan terdalam saudara-saudara di sekitar kita ini pun adalah mimpi kita juga. Jangan mau kalah, oleh maut sekalipun. Amin.

 Pst. H. Tedjoworo OSC



"DIDAMPINGI, DINANTI OLEH IBUNDA"
Why 11:19a; 12:1-6a.10ab; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56

Orang Indonesia kadangkala heran sesaat kalau melihat seorang perempuan menjadi sopir bus, atau memimpin rapat di perusahaan tempat mereka bekerja, atau menjadi kapten kapal. Keheranan ini tidak harus ditafsirkan sebagai diskriminasi. Malah seringkali keheranan itu sebenarnya adalah wujud  kekaguman, ungkapan senang bahwa ada warna baru yang berbeda di profesi-profesi yang sudah sering didominasi oleh laki-laki.

Ungkapan 'warna yang berbeda' ini sebenarnya adalah sebuah rasa syukur, bahkan suatu kelegaan bagi sementara orang. Para lanjut usia, misalnya, akan bernafas lega kalau menjumpai bahwa pengemudi bus yang mereka naiki adalah seorang perempuan. Orang sudah dapat membayangkan, bahwa bus itu tidak akan dikemudikan dengan ngawur dan kasar. Memang tidak selalu demikian. Namun yang membuat perasaan orang menjadi 'beda' sebetulnya adalah 'karakter' yang dibawanya. Karakter ini, biasanya, lebih tenang, lebih lembut, lebih sabar dan memahami. Dan itu menjadi sangat didambakan orang-orang zaman ini, karena dunia ini sepertinya sudah terlalu maskulin, terlalu keras dan 'pemarah' terhadap mereka yang lemah.

Nyanyian Maria dalam Injil Lukas hari ini mungkin sudah kerap kita dengar, terutama pada peringatan-peringatan Maria dalam Gereja. Suka tak suka, setuju tak setuju, isi dari nyanyian ini akan terus menusuk ulu hati banyak orang Kristiani. Mengapa? Sebab Allah yang dipuja-puji di sini, bukanlah
Allah yang Mahaadil dan Mahakuasa, melainkan yang memutar balik takaran keadilan, mengganti ukuran yang kuat dan besar justru dengan yang kecil dan lemah, yang kaya dengan yang lapar, yang kuasa dengan yang tak diperhitungkan. Dalam lagu Maria ini, Allah tidak sesuai dengan logika serta
ideal tentang kebesaran dan kuasa. Bukan pedang, tetapi lengan yang terentang. Bukan hukuman dan sangsi, tetapi pengampunan dan hiburan.

Dan kritik yang luar biasa tajam itu dibawakan oleh Maria dalam sebuah nyanyian, karena rupanya begitulah seharusnya dunia ini diperbaiki, yaknidengan cara yang berbeda dari biasanya. Dalam hal beriman pun orang nampaknya masih terlalu 'maskulin' dan serba keras, sehingga ada saatnya perlu diingatkan bahwa karakter Allah sendiri malah mungkin tidak sekeras keputusan dan hukuman manusia terhadap saudaranya.

Maria telah menghadirkan Yesus di antara kita. Setelah Yesus naik ke surge di depan mata murid-murid-Nya, Maria tetap adalah manusia biasa. Dan ia pun melanjutkan hidupnya sebagai manusia biasa, namun dengan iman dan ketaatan yang luar biasa, seperti ketika menerima kabar gembira dari Gabriel. Mengapa? Karena sejak mengandung Yesus, Maria sudah menjadi murid yang pertama dari Putranya itu. Ia adalah orang Kristen yang pertama di dunia, yang tidak kehilangan kemanusiaannya. Ia adalah "milik Kristus" sesudah Dia yang sulung, seperti kata Paulus (bacaan I), yang dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Sayangnya, ketika Gereja berkembang dan murid Kristus bertambah banyak di dunia ini, orang menyangka bahwa "gada besi" (dalam kitab Wahyu; bacaan I)
adalah ukuran yang harus dipakai dalam beriman. Padahal 'gada besi' itu adalah Sabda Yesus sendiri, yang dalam ketegasannya, tidak perlu ditafsirkan sebagai kekerasan apalagi kekejaman. Kata-kata Yesus tidak pernah bertujuan menyakiti dan membunuh. Malah sebaliknya, kata-kata-Nya itu semata-mata untuk menghibur, menyembuhkan dan menghidupkan orang!

Jadi, mungkin benar, Gereja kita, kita yang beriman ini, berjalan ke arah yang benar tapi kerap membawa karakter yang keliru. Entah kita ini laki-laki atau perempuan, kita masih suka terlalu dingin dan kurang punya hati dalam hal beriman. Mungkin pikiran kita sudah dikuasai oleh klasifikasi yang terlalu kaku dan pengajaran yang terlalu dogmatis, sehingga yang lemah dan rendah hati malah terlalu sering dikalahkan.

Maka, penghormatan terhadap Maria yang diangkat ke surga, ke dalam persatuan dengan Kristus, ini sebenarnya adalah sebuah kritik yang pedas terhadap setiap kesombongan iman. Kita mengimani kebangkitan badan dalam syahadat iman, tetapi manakala menerapkan kriteria atasnya, kita lantas jadi diskriminatif dan memihak pada pikiran 'pantas dan tidak pantas' yang kita ciptakan sendiri. Sebab, kenyataannya Allah tidak berpikir seperti itu. Kenyataannya, Allah punya kriteria, seperti dalam nyanyian Maria, yang sebaliknya, yakni membela dan mengangkat mereka yang rendah, yang lapar, dan yang kecil. Kriteria-Nya adalah kerendahhatian!

Seharusnya, mulai kini, karakter 'ibunda' yang dikasihi Kristus itu mengubah cara kita mengemudi kendaraan, cara kita memimpin rapat, cara kita memperlakukan bawahan, cara kita melihat dan mendampingi siapapun. Beruntung bahwa kita diberi figur seorang 'ibunda' yang sudah membuktikan kesetiaannya dan yang kini menanti kedatangan kita untuk bersatu dengannya. Semoga kita bisa mewujudkan karakter yang diteladankannya, di manapun kita berada dan bekerja. Amin.

 Pst. H. Tedjoworo OSC




"KAMI INI HAMBA-HAMBA YANG TAK BERGUNA"
Hab 1:2-3; 2:2-4; 2Tim 1:6-8.13-14; Luk 17:5-10

Kronologi kekerasan demi kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini ditampilkan
di koran. Masyarakat sedang frustrasi, katanya. Rasa keadilan tidak
terpenuhi, katanya. Melihat berita di televisi seperti menonton film horor.
Nyawa manusia melayang seperti debu tertiup angin. Tentu saja, orang akan
mencari, siapa yang salah di balik semua kejadian itu. Tapi aneh, tak ada
yang berubah. Tetap saja kekerasan merajalela, ditambah lagi orang-orang
yang membawa senjata ke jalan-jalan. Ketakutan lekas mengecilkan hati.

Sebut saja salah satu, yakni munculnya geng-geng motor itu. Benar-benar
tidak dapat dipahami apa yang sebetulnya mereka cari dengan meresahkan dan
menganiaya orang di jalan. Nah, sekarang, bagaimana kalau itu disebabkan
beberapa pihak yang rupanya kurang 'berfungsi'? Polisi kurang berfungsi
karena membiarkan gerombolan itu keluar ke jalan setiap malam.
Bengkel-bengkel kurang berfungsi karena menjual knalpot motor yang suaranya
memekakkan telinga. Tetangga kurang berfungsi karena tak peduli warganya
selalu keluar malam tanpa kerjaan. Keluarga kurang berfungsi karena membuat
anggotanya tak betah tinggal di rumah. Pemerintah kurang berfungsi memberi
rasa aman karena sedang sibuk menutupi laporan keuangan yang koruptif. Ah,
jadi benar, orang tak lagi melakukan apa yang 'seharusnya' dilakukannya.
Semuanya saling 'mengandaikan'.

Ini semua bermula dari iman. Yesus diminta oleh para rasul agar menambah
iman mereka. Tapi Yesus malah heran, bukankah iman sekecil biji sesawi pun
sudah luar biasa? Berarti ada yang salah dengan pengertian mereka tentang
'iman'. Mereka mengira bahwa iman itu lepas dari hidup sehari-hari yang
mereka jalani, seakan-akan itu hanya perbincangan di Bait Allah saja. Tidak.
Iman itu perkara hidup dan tugas setiap hari yang dijalani dengan percaya!

Yesus selalu menemukan sebuah nilai yang luar biasa di balik kejadian yang
nampaknya biasa. Ia bicara tentang kehidupan seorang hamba, yang sepertinya
sekedar melakukan apa yang 'harus' dilakukannya terhadap tuannya. Apakah
hamba itu tidak beriman karena hanya menjalankan kewajibannya? Sebaliknya.
Ia itu figur yang punya iman luar biasa meski hanya sebesar biji sesawi! Ia
tidak menuntut tuannya, tidak memaksakan apapun, tapi berani percaya pada
kebaikannya. Itu sebabnya ia melakukan tugasnya sebaik-baiknya, percaya!

Kata-kata ini sama sekali wujud kerendahhatian seseorang yang penuh
kesetiaan: "Kami ini hamba yang tak berguna; kami hanya melakukan apa yang
harus kami lakukan." Sebab, kita sendiri sering mau mengatakan yang
sebaliknya, "Saya ini orang yang sangat berguna; saya berhak dong,
mendapatkan tugas yang lebih baik lagi.."

Nah, kita baru sadar. Ternyata sudah berkali-kali kita memandang diri
sendiri terlalu hebat, lalu menggunakannya untuk menuntut atasan kita, orang
yang bekerja bersama kita, dan bahkan Tuhan sendiri, supaya kita diberi
pekerjaan yang lebih 'elit', lebih 'pantas' untuk kita. "Saya 'kan pinter,
seharusnya diangkat jadi manajer. Saya 'kan sudah senior, seharusnya sudah
pantas jadi Dekan. Suara saya 'kan bagus, jadi berhak untuk menyanyi sebagai
solis dong. Tuhan, Engkau memberi saya banyak bakat dan kelebihan, jadi
tolong, berilah saya kesempatan yang lebih bagus dari yang sekarang."

Rasa-rasanya tidak cukup iman yang kita temukan di situ. Yang ada adalah
seseorang yang tidak percaya dengan tugasnya yang sekarang, lantas
mencari-cari yang lebih diinginkannya sendiri. Habakuk, dalam bacaan
pertama, melukiskannya seperti orang yang terlalu banyak 'menuntut' Tuhan
tetapi kurang menjalankan apa yang sudah dipercayakan kepadanya. Seakan-akan
Tuhan harus cepat bertindak karena penindasan dan kelaliman yang merajalela
itu. Tetapi, Penyelenggaraan Ilahi mengatakan sebaliknya: Lakukan dulu
tugasmu dengan rendah hati, dan percayalah Tuhan pasti bertindak pada
waktu-Nya!

Ya, seandainya setiap orang memang menjalankan fungsinya, yakni apa yang
harus mereka masing-masing lakukan, banyak persoalan masyarakat tidak perlu
meresahkan lagi. Kita itu sering 'tidak sabar' dengan situasi yang tidak
ideal di depan mata kita, tetapi ini terbukti tidak akan membantu
sedikitpun. Dan ini sudah semestinya kita mulai dengan iman, iman yang meski
kecil, menandakan sebuah 'kerja sama' dengan Tuhan. Hal-hal yang besar hanya
akan terjadi karena Penyelenggaraan Ilahi. Tetapi, hal-hal kecil harus
ditekuni mulai dari tugas kita masing-masing. Sebenarnya menggelikan bahwa
kita suka 'tidak sabar' bahkan terhadap Tuhan sendiri. Siapakah kita ini
sehingga merasa lebih tahu kapan Tuhan harus bertindak?

Yesus pernah mengajar supaya kita setia dengan perkara-perkara kecil yang
dipercayakan-Nya kepada kita. Lakukan saja. Tak usah merasa hebat dengan
kepercayaan itu. Kadang-kadang kita perlu bersyukur atas tugas-tugas
sederhana yang menjadi tanggung jawab kita. Kalau itu pun dijalani dengan
sepenuh hati, dengan sebaik-baiknya, maka dunia ini sudah menjadi lebih
baik. Kita hanyalah hamba-hamba tak berguna, yang percaya bahwa Tuhan pasti
punya rencana luar biasa. Amin.

Pst. H. Tedjoworo OSC



“NGOMONG-NGOMONG, SIAPA YANG KAUMULIAKAN?”
2Raj 5:14-17; 2Tim 2:8-13; Luk 17:11-19


Coba perhatikan tanggapan orang yang kita beri ucapan terima kasih.
Ternyata tidak seragam. Banyak orang yang, setelah kita bilang ‘terima
kasih’, menjawab, “Ya”. Yang lain, berujar “Oke”. Tapi ada juga yang
diucapi terima kasih malah kesal, “Ngapain sih bilang terima kasih
terus, apa tidak ada kata-kata lain?” Lalu dari sekian banyak orang,
ada sedikit yang dengan sadar membalas dengan tanggapan, “Sama-sama…”
ataupun dengan kata-kata, “Terima kasih kembali”, sambil tersenyum
manis. Mari kita melihat, betapa berbeda intensi dan ekspresi di balik
semua jawaban itu, yang mencerminkan hal yang sama ketika mereka
sendiri berterima kasih kepada orang lain.

Ada sebuah keluarga yang berada, punya banyak pelayan di rumahnya.
Tetapi yang menarik, anak-anak di rumah itu dibiasakan sejak kecil
untuk berterima kasih kepada siapapun, terutama kepada para pembantu
dan orang-orang kecil. Kepada pembantu yang menyiapkan makanan di meja
makan, anak-anak terbiasa mengucapkan ‘terima kasih’ dengan tulus dan
dengan tersenyum. Ketika diantar naik mobil, mereka tidak segera lari
masuk ke halaman sekolah, tetapi berterima kasih dulu kepada sopirnya,
dengan tersenyum dan menyebut namanya! Memang sungguh, kata’ terima
kasih’ itu luar biasa. Ia membuat kita tidak lagi berpikir tentang
diri-ku sendiri, milik-ku sendiri, hak-ku sendiri, tetapi bahwa ada
‘kita’, ada ‘engkau’, ada saudaraku yang lain, ada saudara, ada
penolong, ada sahabat di sana.

Kita bisa membayangkan bahwa Yesus ini pasti cari gara-gara.
“Perjalanan-Nya ke Yerusalem menyusur perbatasan Samaria dan Galilea”
bisa dianggap sebagai tindakan provokatif. Ia memprovokasi pandangan
orang tentang ‘perbatasan’ dan permusuhan yang sudah bertahun-tahun
antara orang Yahudi dan Samaria. Dengan begitu Ia cepat digolongkan
sebagai ‘musuh’ oleh orang Samaria, karena tujuan-Nya jelas:
Yerusalem. Orang Samaria tidak akan pergi ke Yerusalem.

Tetapi, peristiwa penyembuhan  sepuluh orang kusta ini menjadi
sungguh-sungguh mengagumkan dari banyak segi. Yesus dipanggil sebagai
‘Guru’ dan dimohon untuk ‘mengasihani’ mereka; di antaranya adalah
orang Samaria yang juga kena kusta. Dan masih juga, jawaban Yesus,
setelah berhenti dan memandang mereka, sangat mengejutkan, “Pergilah,
perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam”. Terbayang di benak
orang-orang kusta itu, “Eh...imam-imam? Nanti dulu, imam-imam yang
mana? Yang di Yerusalem (Yahudi) atau yang di Gunung Gerizim
(Samaria)?” Tetapi mereka toh pergi juga, dan di tengah jalan
terjadilah proses ketahiran mereka itu.

Yang mengejutkan, untuk kesekian kalinya, setelah mendapati diri
mereka tahir di tengah jalan, ternyata hanya satu orang yang tiba-tiba
sadar, ‘siapa’ yang sesungguhnya menyembuhkan dia. Ia berpikir,
“Bukankah Yesus tadi, dan bukan imam-imam (!), yang menyembuhkanku?”
Maka ia berbalik arah, kembali, mencari-cari Yesus yang sedang menuju
Yerusalem itu, dan memuliakan Allah serta berterima kasih kepada-Nya.
Dia ini orang Samaria! Dia tahu bahwa sosok yang menyembuhkannya itu
ialah orang yang perjalanan-Nya bertentangan dengan dirinya sendiri.
Katakanlah, agama-Nya berbeda, jalan hidup-Nya berbeda. Dan orang ini,
sekali lagi, telah menghadirkan Allah yang menyembuhkannya!

Sungguh mengagumkan. Tidak ada kata lain. Orang kusta yang kembali
untuk berterima kasih itu disadarkan, ‘siapa’ yang menyembuhkannya.
Ketika disembuhkan, ia dibuat mampu berdamai bahkan dengan musuhnya,
dengan dirinya sendiri, dibuat ‘lepas bebas’ dengan jalan hidupnya,
dan menemukan betapa dahsyat Allah mengasihinya.

Nah, siapa yang kita beri ucapan terima kasih? Orang-orang yang kita
jumpai, atau Tuhan yang bersemayam dalam diri mereka? Naaman, dalam
bacaan I itu, lambat mengerti bahwa ia seharusnya berterima kasih
kepada Tuhan dan bukan hanya memberi serta memaksakan memberi hadiah
kepada Elisa. Ia harus terus disadarkan oleh Elisa bahwa Tuhanlah yang
pantas dimuliakan, dan bukan sang nabi. Ia tidak boleh memberi hadiah
kepada Elisa, karena dengan begitu tidak akan mengerti bahwa di balik
semuanya ini Tuhanlah yang bekerja dan menyembuhkan.

Bagi kita sendiri, ngomong-ngomong, siapa yang kita muliakan? Kalau
masih menganggap bahwa orang lain sudah sepantasnya melayani kita,
kita itu belum dewasa. Ketika mulai belajar berterima kasih, kita akan
makin tahu bahwa ada orang lain, ada hidup bersama, ada ‘kita’. Lebih
lagi, saat menanggapi syukur orang dengan kata-kata ‘terima kasih
kembali’, kita mengembalikan syukur itu kepada Sang Empunya Rahmat,
dan bukan menikmatinya untuk diri sendiri.

Dua hal sekurang-kurangnya kita pelajari hari ini. Kita diajak belajar
untuk berterima kasih pada siapapun, termasuk mereka yang mungkin
tidak kita sukai, karena Tuhan pun ada dalam diri mereka, untuk
menyelamatkan kita. Kedua, arahkanlah ucapan terima kasih saudara kita
kepada Tuhan yang berada di balik semua peristiwa rahmat; jangan
pernah ‘mengambil untung’ dari rasa syukur siapapun! Amin.

Pst. H. Tedjoworo OSC



PERCAYA, DI TENGAH-TENGAH BADAI
Ayb 38:1.8-11; 2Kor 5:14-17; Mar 4:35-41

Batas kebingungan tiap orang tentu tak sama. Ada yang terbiasa tak acuh,
cenderung bersikap 'dingin-dingin' kalau menghadapi situasi sulit. Mau
ditimpa bencana seperti apa, tetap saja tidak secepat rata-rata orang lain
bereaksi. Akibatnya, jadi serba terlambat untuk melakukan sesuatu, baru
sadar setelah kehilangan segalanya. Tapi sebaliknya, ada yang gampang sekali ketakutan karena hal-hal yang sebetulnya tidak terlalu riskan. Baru juga diberhentikan oleh polisi, sudah berkeringat dingin dan merasa langit
runtuh, merasa berdosa besar dan akhirnya terus-terusan salah bicara.

Orang yang mudah bingung, akan sering bergumam, "Mati aku!" Ya. Bingung itu disamakan dengan kondisi tak ada pilihan. Bingung sama dengan kalah, dan 'pasti' akan hancur lebur. Kita sudah memastikan sendiri apa yang akan
terjadi dengan diri kita manakala menghadapi kejadian yang tak terduga.
Studi tidak lulus, pekerjaan tidak sesuai target, perkiraan yang salah sama
sekali, relasi yang berantakan, terpuruk setelah jadi korban kejahatan, dsb.
Pada saat itu, kita putus harapan dan berseru, "Mati aku!" Dan seberkas
celah kecil pilihan, tidakdapat kita lihat lagi. Pintu ditutup. Case closed.
Tuhan sudah tidur.

Terbayang saat itu, Yesus seperti selebriti. Ia dikejar-kejar banyak orang,
ke manapun Ia menuju. Sepanjang hari. Terkadang Ia harus mengambil jarak dengan cara naik ke perahu, supaya jangan sampai terhimpit oleh banyak orang itu. Tapi ketika hari sudah petang, Ia pun lelah. Ia mengajak
murid-murid-Nya bertolak ke seberang. Hanya saja, nampaknya tidak semua murid-Nya setuju. Sebab langit sudah kelihatan tak ramah, dan angin menebarkan hawa gelap, akan ada badai di danau. Tapi mereka berangkat juga.

Dan memang benar, badai itu datang. Gelombang danau begitu menggila dan membuat gemetar. Tapi Yesus, karena kelelahan, tidur di dalam perahu, sementara para murid seakan-akan sudah menyentuh tepi kematian. Tak ada usaha yang berarti di depan kuasa alam. Mereka bingung, bukan pasrah, lalu membangunkan Yesus, "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?"

Entah mengapa, kita seperti diingatkan, bahwa semuanya itu seolah-olah
pengalaman kita sendiri. Ya, pengalaman ketika kita bingung, merasa hancur di depan sebuah kenyataan yang tak pernah kita harapkan. Dan teriakan itu, seperti sebuah gumam yang sering kita tuturkan, "Apakah Tuhan tidak peduli bahwa aku akan binasa? Apakah masih ada 'seseorang' di atas sana? Mengapa aku harus menelan semuanya ini mentah-mentah?" Aha, kita 'membutuhkan' Tuhan untuk dipersalahkan, atau 'membutuhkan' orang lain yang lebih beruntung untuk kita sindir-sindir dengan pelbagai ironi.

Ayub pernah mengalaminya (bac. I). Ketika semua penderitaan yang paling
buruk menimpanya, ia mulai bertanya, di manakah Tuhan. Ia sempat terbawa perasaan, ketika teman-temannya menyindir-nyindir Tuhan dalam kata-kata mereka. Namun jawaban Tuhan menggelegar dari dalam badai, di depan kata-kata manusia itu. Intinya, manusia tidak tahu apa-apa, dan dalam keputusasaan, mereka menjadi congkak seperti gelombang laut. Mereka bukannya belajar percaya, malah membuat keadaan menjadi lebih buruk daripada sebelumnya.

Perhatikanlah kata-kata Yesus kepada badai yang ganas. Ia 'berbicara' kepada badai itu, "Diam. Tenanglah!" Lalu angin itu reda, dan danau menjadi teduh. Tidak ada usaha yang lebih baik lagi dalam situasi kebingungan, selain kata-kata yang menenangkan gejolak, meredakan kecongkakan. Ada banyak badai yang pasti akan terjadi dalam hidup kita, dalam relasi dan usaha kita. Dan jika itu harus terjadi, maka itu akan terjadi, entah kita setuju atau tidak. Tapi hanya ada satu sikap yang paling tepat sebagai orang yang beriman: percayalah. Tidak usah panik. Tidak usah bingung, apalagi sampai menyindir-nyindir Tuhan, mempertanyakan kepeduliannya atas situasi kita.

Jadi bukan 'tidur'-nya Yesus yang membuat keadaan menjadi parah pada waktu itu, melainkan kecongkakan para murid sendiri yang telah menutup sebuah pilihan untuk percaya. Jadi pertanyaan Yesus itu sungguh tepat, "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Ya. Mengapa kita begitu bingung setiap kali mengalami badai yang memang harus terjadi? Kita jelas tak punya jawaban untuk 'menyelesaikan' badai itu, tapi kita sebetulnya punya iman untuk bersabar sebentar, untuk menahan diri hingga Tuhan bertindak. Jadi, bukan kita, tapi Tuhan yang akan bertindak. Kita hanya perlu menunggu. Apa sulitnya menunggu Tuhan bertindak?

Yang paling menggelikan dalam hidup kita ialah ketergesaan kita sendiri.
Kita mau semua yang sulit itu cepat selesai. Menggelikan, karena kita
sendiri memperparah situasi yang kita hadapi. Seharusnya iman kita itu
mempersilakan Tuhan menjalankan rencana-Nya untuk hidup kita. Dan
rencana-Nya memang yang terbaik untuk kita! Jadi, kita itu hanya perlu
menjalani semua kesusahan dengan percaya. Itu berarti, "Diam. Tenanglah!" Jalani saja. Nanti badai akan reda. Percaya berarti rendah hati. Jangan tergesa-gesa. Waktu adalah iman. Tuhan sudah menyediakan jawaban, pada waktu-Nya. Amin.

 Pst. H. Tedjoworo, OSC



PELAYANAN: ANTI-KEISTIMEWAAN
Yeh 2:2-5; 2Kor 12:7-10; Mrk 6:1-6

Konon mengukur daya tahan pelayanan orang zaman sekarang itu gampang. Tanggapi saja dengan apatis, atau berilah reaksi yang negatif, maka sebentar saja pelayanan mereka akan runtuh. Kekecewaan suka dilebih-lebihkan dari sisi pribadi, sehingga kalau yang dialami tak sesuai dengan harapannya, orang mudah mundur, menyerah, lantas menghakimi publik sebagai tak punya penghargaan, dan seterusnya. Ah, siapa yang melayani dan siapa yang dilayani?

Masalahnya seringkali, orang tak pernah sungguh siap untuk melayani.
Kebanyakan masih hidup dalam ilusi bahwa 'saya' yang harus dilayani, harus diperlakukan istimewa, bukan orang lain. Di pintu-pintu 'metro' (kereta api bawah tanah) diberi petunjuk supaya memberi jalan kepada penumpang yang akan keluar lebih dahulu. Tapi kenyataannya, mereka yang mau masuk justru berebut dan tak peduli. Yang juga sering terjadi ialah kebiasaan tak mau antri. Menyerobot itu bukti paling jelas bahwa orang menuntut keistimewaan. Apalagi kalau ia punya posisi sebagai pejabat, misalnya. Contoh lain, ketika kita memandang pekerjaan kita terlalu tinggi, lalu menuntut orang lain respek pada kita. Bagaimana kalau mereka suatu saat tak setuju, menolak, atau tak tertarik dengan 'kelebihan' kita? Sudah banyak yang tergoda untuk menuntut tanggapan positif hanya demi 'kelebihan'nya. Kalau begitu, pelayanan hanya sebatas ide, belum menjadi jalan hidup.

Kalau bukan Yesus yang ditanggapi dengan pahit dan kurang percaya pada waktu itu, mungkin orang sudah akan mundur teratur. Bayangkan saja, sebentar setelah jemaat yang besar itu takjub mendengar pengajaran-Nya, mereka sudah kecewa dan menolak Dia. Mereka tidak menolak ajaran-Nya, tetapi kenyataan bahwa Yesus ini tak lebih dari 'orang kita', salah satu dari antara kita, yang seharusnya biasa-biasa saja. Mereka menolak identitasnya yang sekedar anak tukang kayu, saudara dari orang-orang biasa saja. Siapa yang tidak sakit hati kalau prestasinya dilecehkan hanya karena 'siapa' dia, 'suku' apa dia, 'anak siapa' dia, orang 'macam apa' dia itu?

Memang benar, Yesus tidak mengadakan satu mukjizat pun di sana. Tetapi Yesus tidak disebutkan berhenti melayani mereka. Ia tetap mengajar dari desa ke desa. Ia tetap meletakkan tangan-Nya atas orang-orang sakit dan menyembuhkan mereka. Jika 'mukjizat' tak terjadi, itu karena di antara mereka kurang ada iman, dan bukan karena dari diri-Nya sendiri Yesus tidak mau menghadirkannya.

Alangkah sehari-harinya kejadian di dalam Injil hari ini. Godaan dan reaksi,
tantangan dan situasinya, benar-benar aktual, bahkan faktual, bagi kita di
zaman ini. Berapa kali kita berangkat kerja dengan antusias, dan di kantor
semangat kita hangus hanya gara-gara teguran dan perilaku atasan? Kapan saja kita hadir di pertemuan lingkungan atau kelompok, dan pulang dengan sakit hati hanya karena kecewa terhadap kebijakan para pengurusnya? Atau suatu kali memimpin rapat dan pulang dengan marah hanya karena para anggota menolak agenda yang kita tawarkan?

Bukan sekali dua kali terjadi, bahwa orang yang sebetulnya rajin dan baik
tiba-tiba menjadi ketus dan pemarah karena sebuah peristiwa yang
mengecewakan. Lantas alasan yang baik pula dipakai untuk membenarkan
kemarahan itu: "Bukankah saya hanya mau melayani kalian? Mengapa kalian justru melawan dan menolak saya?" Nah, kita juga suka begitu,
mengatasnamakan sebuah 'kebaikan' untuk mendapatkan keistimewaan. Dan keistimewaan itu sering begitu samar, berupa keinginan untuk ditanggapi juga dengan baik, untuk disetujui, untuk dipuja-puji dan dikagumi, untuk diakui dan dipercayai. Tapi tetap saja, itu semua privilege yang mau kita tuntut dari pelayanan!

Menarik sekali kisah Paulus dalam bacaan I. Bahkan sampai tiga kali ia
memohon kepada Tuhan supaya mengambil duri dalam dagingnya, tetapi Tuhan membiarkannya. Bisa dibayangkan bahwa Paulus akan menggunakan pelayanannya sebagai alasan permohonan itu, tapi tetap saja tidak dikabulkan. Tuhan menjawab, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahan kuasa-Ku jadi sempurna!" Jadi? Ya. Jadi, Tuhan memang menghendaki ada duri dalam daging kita, juga sekalipun itu akan mengganggu pelayanan kita dalam nama-Nya! Dengan kata lain, jangan sekali-kali memakai iman, sedalam apapun, untuk menuntut sebuah keistimewaan dari Tuhan.

Jika kita sampai pada pengertian itu, kita akan mengungkap sebuah rahasia
pelayanan seperti ditunjukkan oleh Yesus dalam Injil. Apapun reaksi orang
itu tidak penting. Jangan minta 'upah', sekalipun dalam bentuk antusiasme
dari para pendengar kita. Yehezkiel sudah diperingatkan, "entah mereka
mendengarkan atau tidak" (bac. I), "firman Tuhan harus Kaukatakan!" Yesus
tidak mengurangi pelayanan-Nya, sekalipun dilecehkan identitas-Nya,
sekalipun ditolak dan ditinggalkan. Lihatlah setiap reaksi negatif itu
sebagai duri dalam daging, yang baik, yang perlu, bahkan yang sehat untuk
hidup iman kita!

Jadi, pelayanan Kristiani hanya dapat dihayati dengan sikap
anti-keistimewaan. Kalau tidak menuntut, kita pun tak perlu kecewa. Sebab,
bukan 'kelebihan' kita yang penting, tetapi sempurnanya kuasa Tuhan.
Rencana-Nya akan berhasil, di dalam 'kelemahan' kita. Amin.

Pst. H. Tedjoworo, OSC



"MENGAPA TIDAK?"
Kel 17:8-13; 2Tim 3:14-4:2; Luk 18:1-8

Kalau mendengar sendiri cerita para orangtua tentang usaha mereka
menyekolahkan anak-anaknya, kita akan terenyuh. Sungguh mengharukan. Mereka
mau melakukan apa saja, menjual barang berharga, mengantri di sekolah
favorit sejak pagi, menghubungi guru atau dosen yang dikenal, meminta tolong
terus ke panitia penerimaan (maha)siswa baru, dsb. Itu semua bukan hal
kecil! Dibutuhkan kerendahhatian, kerelaan, kesetiaan, dan kekuatan yang
besar sekali. Para murid dan mahasiswa yang sekarang tinggal menikmati
bangku sekolah dan kuliah itu seharusnya mengingat setiap hari perjuangan
yang meluluhkan kalbu ini.

Tapi sebaliknya, banyak juga kisah orang zaman ini yang begitu cepat
menyerah padahal baru satu kali mencoba dan tak berhasil. Terlalu cepat
orang mengatakan, "Ya sudahlah", dengan wajah pura-pura tak peduli. Gengsi!
Ini bukan soal 'coba-coba' belaka. Ini seringkali menyangkut hal yang sangat
penting dan mendesak, namun betapa kuat gengsi itu mempengaruhi dan
mendorong hingga orang bersikap seakan-akan tak membutuhkan, atau tak sudi
meminta lagi. Ditolak dan 'dibiarkan' itu tidak menyenangkan. Dan orang
merasa berhak bereaksi 'membalas'. Tapi di balik semua itu, yang didamba dan
diperlukannya tetap juga tidak terwujud. Padahal hanya perlu berusaha lagi.

Mengesankan, kisah Yesus hari ini. Yesus melukiskan dengan detil, apa yang
mungkin terjadi di hati seorang hakim yang lalim, sampai disebutkan bahwa
hakim itu mengabulkan permintaan janda itu hanya karena terus "menyusahkan
dia". Tapi Yesus sungguh tahu bahwa itu bukan pokok masalahnya. Siapa yang
peduli dengan detil yang dipikirkan dalam hati seseorang? Siapa yang pusing
dengan motivasi hakim itu? Ya, memang tidak ada. Karena dia memang hakim
yang lalim. Karena memang itu tidak penting! Lalu kita dan para murid lain
jadi paham, ternyata intinya terletak pada apa "yang dilakukan" janda itu!

Perhatian kita sangat cepat terpusat pada sikap dan pikiran hakim yang
lalim, namun jadi buyar untuk menangkap usaha keras si janda yang
menggetarkan hati itu. Janda itu dikisahkan "selalu datang" dan meminta
supaya hakim membela haknya. Bukankah seorang hakim memang harus membela hak
orang benar? Jadi itu memang pekerjaannya! Jadi memang orang harus datang
dan 'minta untuk dibela'! Itu, rupanya, problem kita. Kita tidak datang pada
siapapun dan tidak minta dibela soal apapun. Kita acapkali terlalu yakin
dengan kekuatan sendiri, terlalu gengsi masalah kita ini diketahui orang
lain, terlalu menjaga gambaran diri yang sebetulnya juga tidak hebat-hebat
amat.

Pada saat seperti itu, baik bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri: apa
'sih' ruginya kita mencoba lagi? Apa 'sih' susahnya meminta tolong dengan
rendah hati ke orang lain untuk kedua, ketiga, kesepuluh kalinya? Apa 'sih'
beratnya datang lagi kepada seseorang kendati seakan-akan tidak dipedulikan,
dianggap menyusahkan, bahkan dikira punya maksud buruk atas dirinya? Tidak
ada yang susah dan berat untuk itu semua! Yang mungkin susah adalah
mengalahkan kesombongan dan sikap reaktif kita sendiri. Tapi bukan berarti
tidak bisa.

Kalau Musa pada waktu itu merasa risih atau terganggu dengan Harun dan Hur
yang membantu menopang kedua belah tangannya, Israel tidak akan menang
melawan Amalek. Musa harus memahami bahwa dirinya sendiri tidak akan kuat
bertahan, memegang tongkat Allah di tangannya di atas bukit. Ia harus
memahami bahwa Harun dan Hur itu berusaha melakukan apapun agar tangannya
tetap terangkat dan Israel mendapat kekuatan dari Allah karena melihat
tongkat-Nya. Tidak ada yang mempertanyakan segala daya upaya mereka itu
karena kenyataannya itu memang mendatangkan kuasa Allah Mahatinggi.

Demikian pula, kalau kita ditanya orang, mengapa terus juga berdoa dan
memohon, terus terusan mendaraskan novena, mungkin bertahun-tahun meminta
hal yang sama, maka seharusnya kita itu balik bertanya: "Mengapa tidak?"
Kalau kita sungguh yakin bahwa permintaan kita itu sungguh-sungguh kita
butuhkan demi hidup yang kita jalani ini, apapun juga akan kita lakukan
supaya Tuhan berkenan mengabulkannya.

Ada sementara orang yang tiba-tiba merasa 'tidak enak' karena doanya kok
selalu meminta dan meminta, seakan-akan terus menerus 'merepotkan' Tuhan
dengan permintaan mereka itu. Tapi sekali lagi, mau apa kita dengan
detil-detil ilahi semacam itu? Mengapa pusing dengan pikiran Tuhan yang
jelas tidak akan kita pahami? Benar bahwa kita harus percaya pada
penyelenggaraan Tuhan, tetapi juga harus berani minta dan berusaha melakukan
apapun agar Tuhan berkenan.

Meskipun begitu, mari kita tetap jeli atas beberapa perbedaan, yakni antara
sikap rendah hati dan manipulasi, antara kerelaan dan maksud tersembunyi,
antara perjuangan dan pemaksaan. Bagaimanapun Yesus sudah meyakinkan kita
bahwa Allah tidak akan berlambat, jika kita sungguh-sungguh berusaha
melakukan apapun yang masih bisa dilakukan, dan tidak terlalu gengsi untuk
selalu mencoba lagi. Kalau itu semua masih bisa kita usahakan, mengapa
tidak? Amin.

Pst. H. Tedjoworo OSC