"ANTARA HIDUP DAN
PERUT" Pst. H. Tedjoworo OSC "KERAJAAN-NYA
ADALAH MIMPI KITA JUGA!" Seseorang baru saja sembuh dari sakit berat. Untuk bersyukur atas kesembuhannya, ia ingin sebisa mungkin mengunjungi, menghibur, dan mendoakan orang-orang yang sedang sakit. Kini rasa syukur itu terasa lebih dalam lagi, karena ia sudah mengalami sendiri apa artinya berharap dan berdoa di kala sakit. Suatu kali ia mengunjungi seorang suster yang tubuhnya digerogoti kanker, dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. Ia duduk di samping tempat tidur, ikut merasakan kesakitannya. Di luar dugaan, suster yang menangkapa kerisauannya itu berkata, "Jangan sedih. Sungguh, saya sudah mengalami mukjizat. Dan mukjizat itu bukan berupa kesembuhan, melainkan bahwa saya bisa menerima semua ini dan menanggungnya." Mengagumkan. Bahkan di tepi kehidupan, suster itu masih yakin sudah diselamatkan. Ada banyak mimpi kita yang dirobek-robek oleh penyakit maupun musibah. Sebagian bahkan terbuang karena sebuah keputusan yang keliru dalam hidup kita. Namun masalahnya, apakah kita membiarkan semua itu hilang tertiup angin? Begitu juga, ada orang yang menyerah justru di saat-saat yang paling sulit hidup mereka, melepaskan apa yang selama ini sudah diperjuangkan mati-matian. 'Nasib' adalah kata berbahaya. Alangkah cepat diucapkan saat mimpi memudar. Lalu bagaimana dengan mereka yang selama ini berbagi mimpi dengannya? Bukankah mereka tetap ingin supaya ia selamat dan sehat kembali? Bukankah mereka tetap menyayangi kendati ia sedang terpuruk? Olok-olok dan cemooh sarkastis beterbangan di sekitar sosok Yesus yang tersalib. Itu semua diperburuk dengan tulisan "Inilah Raja Orang Yahudi". Tulisan 'raja' ini menjadi inspirasi empuk untuk menghujat Yesus habis-habisan. Sungguh menyenangkan bagi orang-orang itu menjadikan Yesus bulan-bulanan. Mengapa? Karena orang yang disebut-sebut 'raja' ini sudah jatuh dan digantung sebagai penjahat. Orang yang di mana-mana mewartakan Kerajaan Allah ini sudah gagal dan hancur. Kata-katanya sudah jelas tidak terbukti. Kerajaan Allah tak pernah terjadi. Tapi itu dari sisi mereka yang menyalibkan Yesus. Dari sisi Yesus sendiri? Kerajaan Allah 'sedang' dimulai, saat ini juga. Firdaus 'sudah' ada di sana. Salib adalah tahta-Nya. Duri, mahkota-Nya. Dan salah satu warga pertama kerajaan itu ialah penjahat yang berkata, "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Dan Yesus menjawab, "Hari ini, engkau sudah berada di Firdaus bersama-Ku!" Kata-kata terakhir Yesus itu menunjukkan bahwa mimpi-Nya akan Kerajaan Allah masih hidup dan menyala-nyala, bahkan di akhir hidup-Nya! Kerajaan itu sudah mulai 'dibangun' sejak Ia mewartakannya di jalan-jalan di Galilea hingga Yerusalem. Itu adalah mimpi-Nya yang takkan dirampas oleh siapapun, sekalipun itu Maut! Ia 'adalah' raja, karena sudah menjaga baik-baik kehendak Sang Bapa, yang sejak semula menginginkan kerajaan itu terwujud di muka bumi.
Sekarang, apa yang terjadi pada mimpi-mimpi kita? Barangkali sudah banyak
yang kita lepaskan, karena kita berpikir, sudah tidak mungkin lagi terjadi.
Tolong pikirkan kembali! Sekian puluh tahun hidup kita diisi perjuangan yang
luar biasa, dan alangkah panjang perjuangan itu berikut penderitaan dan
segala sakitnya. Sebagian besar hidup kita 'dihabiskan' untuk mengejar
mimpi-mimpi, dengan malam-malam yang gelap gulita dan teriknya siang hari
yang penuh dengan peluh. Ingatlah kembali segala pengorbanan dan kehilangan Ya. Hati kecil kita berteriak, "Tidak akan!" Tidak akan kita lepaskan harapan yang sudah sekian lama kita perjuangkan itu. Dan itulah kemenangan iman. Itulah yang ditunjukkan, diajarkan, oleh Yesus saat tergantung di kayu salib. Itulah juga yang membuktikan bahwa Kerajaan Allah sungguh-sungguh telah dimulai dan semakin berjaya. Kerajaan ini diam-diam meluas ke segala ujung bumi, setiap kali kita menolak untuk menyerah pada 'nasib', melawan godaan untuk bersikap sinis terhadap realitas hidup, membasuh mulut kita dari ejekan dan cemooh atas peristiwa kejatuhan saudara kita sendiri. Kalau kita masih sering bersikap 'nyinyir' terhadap kelemahan dan kegagalan saudara kita, itu bukti bahwa kita sendiri adalah orang yang gampang menyerah pada nasib. Kalau mulut kita suka 'membocorkan' kejelekan-kejelekan orang, bahkan yang tinggal serumah dengan kita, kepada orang lain, itu bukti bahwa kita memang sudah kehilangan mimpi dan harapan. Kalau kita 'selalu' mengeluh atas salib yang memang harus kita pikul, itu tanda bahwa kita tidak mengerti apa-apa tentang Kerajaan yang diperjuangkan Yesus sampai mati di salib.
Mari kita ingat komentar-komentar buruk di sekitar salib Yesus itu. Kita
mengingat kejadian itu, supaya kita sendiri lebih hati-hati, supaya kita
menemukan mukjizat keselamatan itu, karena mau memelihara dan terus Pst. H. Tedjoworo OSC "DIDAMPINGI, DINANTI
OLEH IBUNDA" Orang Indonesia kadangkala heran sesaat kalau melihat seorang perempuan menjadi sopir bus, atau memimpin rapat di perusahaan tempat mereka bekerja, atau menjadi kapten kapal. Keheranan ini tidak harus ditafsirkan sebagai diskriminasi. Malah seringkali keheranan itu sebenarnya adalah wujud kekaguman, ungkapan senang bahwa ada warna baru yang berbeda di profesi-profesi yang sudah sering didominasi oleh laki-laki. Ungkapan 'warna yang berbeda' ini sebenarnya adalah sebuah rasa syukur, bahkan suatu kelegaan bagi sementara orang. Para lanjut usia, misalnya, akan bernafas lega kalau menjumpai bahwa pengemudi bus yang mereka naiki adalah seorang perempuan. Orang sudah dapat membayangkan, bahwa bus itu tidak akan dikemudikan dengan ngawur dan kasar. Memang tidak selalu demikian. Namun yang membuat perasaan orang menjadi 'beda' sebetulnya adalah 'karakter' yang dibawanya. Karakter ini, biasanya, lebih tenang, lebih lembut, lebih sabar dan memahami. Dan itu menjadi sangat didambakan orang-orang zaman ini, karena dunia ini sepertinya sudah terlalu maskulin, terlalu keras dan 'pemarah' terhadap mereka yang lemah. Nyanyian Maria dalam Injil
Lukas hari ini mungkin sudah kerap kita dengar, terutama pada
peringatan-peringatan Maria dalam Gereja. Suka tak suka, setuju tak setuju, isi
dari nyanyian ini akan terus menusuk ulu hati banyak orang Kristiani. Mengapa?
Sebab Allah yang dipuja-puji di sini, bukanlah Dan kritik yang luar biasa tajam itu dibawakan oleh Maria dalam sebuah nyanyian, karena rupanya begitulah seharusnya dunia ini diperbaiki, yaknidengan cara yang berbeda dari biasanya. Dalam hal beriman pun orang nampaknya masih terlalu 'maskulin' dan serba keras, sehingga ada saatnya perlu diingatkan bahwa karakter Allah sendiri malah mungkin tidak sekeras keputusan dan hukuman manusia terhadap saudaranya. Maria telah menghadirkan
Yesus di antara kita. Setelah Yesus naik ke surge di depan mata
murid-murid-Nya, Maria tetap adalah manusia biasa. Dan ia pun melanjutkan
hidupnya sebagai manusia biasa, namun dengan iman dan ketaatan yang luar biasa,
seperti ketika menerima kabar gembira dari Gabriel. Mengapa? Karena sejak
mengandung Yesus, Maria sudah menjadi murid yang pertama dari Putranya itu. Ia
adalah orang Kristen yang pertama di dunia, yang tidak kehilangan
kemanusiaannya. Ia adalah "milik Kristus" sesudah Dia yang sulung,
seperti kata Paulus (bacaan I), yang dihidupkan kembali dalam persekutuan
dengan Kristus. Sayangnya, ketika Gereja berkembang dan murid Kristus bertambah
banyak di dunia ini, orang menyangka bahwa "gada besi" (dalam kitab
Wahyu; bacaan I) Jadi, mungkin benar, Gereja kita, kita yang beriman ini, berjalan ke arah yang benar tapi kerap membawa karakter yang keliru. Entah kita ini laki-laki atau perempuan, kita masih suka terlalu dingin dan kurang punya hati dalam hal beriman. Mungkin pikiran kita sudah dikuasai oleh klasifikasi yang terlalu kaku dan pengajaran yang terlalu dogmatis, sehingga yang lemah dan rendah hati malah terlalu sering dikalahkan. Maka, penghormatan terhadap Maria yang diangkat ke surga, ke dalam persatuan dengan Kristus, ini sebenarnya adalah sebuah kritik yang pedas terhadap setiap kesombongan iman. Kita mengimani kebangkitan badan dalam syahadat iman, tetapi manakala menerapkan kriteria atasnya, kita lantas jadi diskriminatif dan memihak pada pikiran 'pantas dan tidak pantas' yang kita ciptakan sendiri. Sebab, kenyataannya Allah tidak berpikir seperti itu. Kenyataannya, Allah punya kriteria, seperti dalam nyanyian Maria, yang sebaliknya, yakni membela dan mengangkat mereka yang rendah, yang lapar, dan yang kecil. Kriteria-Nya adalah kerendahhatian! Seharusnya, mulai kini, karakter 'ibunda' yang dikasihi Kristus itu mengubah cara kita mengemudi kendaraan, cara kita memimpin rapat, cara kita memperlakukan bawahan, cara kita melihat dan mendampingi siapapun. Beruntung bahwa kita diberi figur seorang 'ibunda' yang sudah membuktikan kesetiaannya dan yang kini menanti kedatangan kita untuk bersatu dengannya. Semoga kita bisa mewujudkan karakter yang diteladankannya, di manapun kita berada dan bekerja. Amin. Pst. H. Tedjoworo OSC Hab 1:2-3; 2:2-4; 2Tim 1:6-8.13-14; Luk 17:5-10 Kronologi kekerasan demi kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini ditampilkan di koran. Masyarakat sedang frustrasi, katanya. Rasa keadilan tidak terpenuhi, katanya. Melihat berita di televisi seperti menonton film horor. Nyawa manusia melayang seperti debu tertiup angin. Tentu saja, orang akan mencari, siapa yang salah di balik semua kejadian itu. Tapi aneh, tak ada yang berubah. Tetap saja kekerasan merajalela, ditambah lagi orang-orang yang membawa senjata ke jalan-jalan. Ketakutan lekas mengecilkan hati. Sebut saja salah satu, yakni munculnya geng-geng motor itu. Benar-benar tidak dapat dipahami apa yang sebetulnya mereka cari dengan meresahkan dan menganiaya orang di jalan. Nah, sekarang, bagaimana kalau itu disebabkan beberapa pihak yang rupanya kurang 'berfungsi'? Polisi kurang berfungsi karena membiarkan gerombolan itu keluar ke jalan setiap malam. Bengkel-bengkel kurang berfungsi karena menjual knalpot motor yang suaranya memekakkan telinga. Tetangga kurang berfungsi karena tak peduli warganya selalu keluar malam tanpa kerjaan. Keluarga kurang berfungsi karena membuat anggotanya tak betah tinggal di rumah. Pemerintah kurang berfungsi memberi rasa aman karena sedang sibuk menutupi laporan keuangan yang koruptif. Ah, jadi benar, orang tak lagi melakukan apa yang 'seharusnya' dilakukannya. Semuanya saling 'mengandaikan'. Ini semua bermula dari iman. Yesus diminta oleh para rasul agar menambah iman mereka. Tapi Yesus malah heran, bukankah iman sekecil biji sesawi pun sudah luar biasa? Berarti ada yang salah dengan pengertian mereka tentang 'iman'. Mereka mengira bahwa iman itu lepas dari hidup sehari-hari yang mereka jalani, seakan-akan itu hanya perbincangan di Bait Allah saja. Tidak. Iman itu perkara hidup dan tugas setiap hari yang dijalani dengan percaya! Yesus selalu menemukan sebuah nilai yang luar biasa di balik kejadian yang nampaknya biasa. Ia bicara tentang kehidupan seorang hamba, yang sepertinya sekedar melakukan apa yang 'harus' dilakukannya terhadap tuannya. Apakah hamba itu tidak beriman karena hanya menjalankan kewajibannya? Sebaliknya. Ia itu figur yang punya iman luar biasa meski hanya sebesar biji sesawi! Ia tidak menuntut tuannya, tidak memaksakan apapun, tapi berani percaya pada kebaikannya. Itu sebabnya ia melakukan tugasnya sebaik-baiknya, percaya! Kata-kata ini sama sekali wujud kerendahhatian seseorang yang penuh kesetiaan: "Kami ini hamba yang tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan." Sebab, kita sendiri sering mau mengatakan yang sebaliknya, "Saya ini orang yang sangat berguna; saya berhak dong, mendapatkan tugas yang lebih baik lagi.." Nah, kita baru sadar. Ternyata sudah berkali-kali kita memandang diri sendiri terlalu hebat, lalu menggunakannya untuk menuntut atasan kita, orang yang bekerja bersama kita, dan bahkan Tuhan sendiri, supaya kita diberi pekerjaan yang lebih 'elit', lebih 'pantas' untuk kita. "Saya 'kan pinter, seharusnya diangkat jadi manajer. Saya 'kan sudah senior, seharusnya sudah pantas jadi Dekan. Suara saya 'kan bagus, jadi berhak untuk menyanyi sebagai solis dong. Tuhan, Engkau memberi saya banyak bakat dan kelebihan, jadi tolong, berilah saya kesempatan yang lebih bagus dari yang sekarang." Rasa-rasanya tidak cukup iman yang kita temukan di situ. Yang ada adalah seseorang yang tidak percaya dengan tugasnya yang sekarang, lantas mencari-cari yang lebih diinginkannya sendiri. Habakuk, dalam bacaan pertama, melukiskannya seperti orang yang terlalu banyak 'menuntut' Tuhan tetapi kurang menjalankan apa yang sudah dipercayakan kepadanya. Seakan-akan Tuhan harus cepat bertindak karena penindasan dan kelaliman yang merajalela itu. Tetapi, Penyelenggaraan Ilahi mengatakan sebaliknya: Lakukan dulu tugasmu dengan rendah hati, dan percayalah Tuhan pasti bertindak pada waktu-Nya! Ya, seandainya setiap orang memang menjalankan fungsinya, yakni apa yang harus mereka masing-masing lakukan, banyak persoalan masyarakat tidak perlu meresahkan lagi. Kita itu sering 'tidak sabar' dengan situasi yang tidak ideal di depan mata kita, tetapi ini terbukti tidak akan membantu sedikitpun. Dan ini sudah semestinya kita mulai dengan iman, iman yang meski kecil, menandakan sebuah 'kerja sama' dengan Tuhan. Hal-hal yang besar hanya akan terjadi karena Penyelenggaraan Ilahi. Tetapi, hal-hal kecil harus ditekuni mulai dari tugas kita masing-masing. Sebenarnya menggelikan bahwa kita suka 'tidak sabar' bahkan terhadap Tuhan sendiri. Siapakah kita ini sehingga merasa lebih tahu kapan Tuhan harus bertindak? Yesus pernah mengajar supaya kita setia dengan perkara-perkara kecil yang dipercayakan-Nya kepada kita. Lakukan saja. Tak usah merasa hebat dengan kepercayaan itu. Kadang-kadang kita perlu bersyukur atas tugas-tugas sederhana yang menjadi tanggung jawab kita. Kalau itu pun dijalani dengan sepenuh hati, dengan sebaik-baiknya, maka dunia ini sudah menjadi lebih baik. Kita hanyalah hamba-hamba tak berguna, yang percaya bahwa Tuhan pasti punya rencana luar biasa. Amin. Pst. H. Tedjoworo OSC “NGOMONG-NGOMONG, SIAPA YANG KAUMULIAKAN?” PERCAYA, DI
TENGAH-TENGAH BADAI Pst. H. Tedjoworo, OSC PELAYANAN: ANTI-KEISTIMEWAAN Pst. H. Tedjoworo, OSC Kel 17:8-13; 2Tim 3:14-4:2; Luk 18:1-8 Kalau mendengar sendiri cerita para orangtua tentang usaha mereka menyekolahkan anak-anaknya, kita akan terenyuh. Sungguh mengharukan. Mereka mau melakukan apa saja, menjual barang berharga, mengantri di sekolah favorit sejak pagi, menghubungi guru atau dosen yang dikenal, meminta tolong terus ke panitia penerimaan (maha)siswa baru, dsb. Itu semua bukan hal kecil! Dibutuhkan kerendahhatian, kerelaan, kesetiaan, dan kekuatan yang besar sekali. Para murid dan mahasiswa yang sekarang tinggal menikmati bangku sekolah dan kuliah itu seharusnya mengingat setiap hari perjuangan yang meluluhkan kalbu ini. Tapi sebaliknya, banyak juga kisah orang zaman ini yang begitu cepat menyerah padahal baru satu kali mencoba dan tak berhasil. Terlalu cepat orang mengatakan, "Ya sudahlah", dengan wajah pura-pura tak peduli. Gengsi! Ini bukan soal 'coba-coba' belaka. Ini seringkali menyangkut hal yang sangat penting dan mendesak, namun betapa kuat gengsi itu mempengaruhi dan mendorong hingga orang bersikap seakan-akan tak membutuhkan, atau tak sudi meminta lagi. Ditolak dan 'dibiarkan' itu tidak menyenangkan. Dan orang merasa berhak bereaksi 'membalas'. Tapi di balik semua itu, yang didamba dan diperlukannya tetap juga tidak terwujud. Padahal hanya perlu berusaha lagi. Mengesankan, kisah Yesus hari ini. Yesus melukiskan dengan detil, apa yang mungkin terjadi di hati seorang hakim yang lalim, sampai disebutkan bahwa hakim itu mengabulkan permintaan janda itu hanya karena terus "menyusahkan dia". Tapi Yesus sungguh tahu bahwa itu bukan pokok masalahnya. Siapa yang peduli dengan detil yang dipikirkan dalam hati seseorang? Siapa yang pusing dengan motivasi hakim itu? Ya, memang tidak ada. Karena dia memang hakim yang lalim. Karena memang itu tidak penting! Lalu kita dan para murid lain jadi paham, ternyata intinya terletak pada apa "yang dilakukan" janda itu! Perhatian kita sangat cepat terpusat pada sikap dan pikiran hakim yang lalim, namun jadi buyar untuk menangkap usaha keras si janda yang menggetarkan hati itu. Janda itu dikisahkan "selalu datang" dan meminta supaya hakim membela haknya. Bukankah seorang hakim memang harus membela hak orang benar? Jadi itu memang pekerjaannya! Jadi memang orang harus datang dan 'minta untuk dibela'! Itu, rupanya, problem kita. Kita tidak datang pada siapapun dan tidak minta dibela soal apapun. Kita acapkali terlalu yakin dengan kekuatan sendiri, terlalu gengsi masalah kita ini diketahui orang lain, terlalu menjaga gambaran diri yang sebetulnya juga tidak hebat-hebat amat. Pada saat seperti itu, baik bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri: apa 'sih' ruginya kita mencoba lagi? Apa 'sih' susahnya meminta tolong dengan rendah hati ke orang lain untuk kedua, ketiga, kesepuluh kalinya? Apa 'sih' beratnya datang lagi kepada seseorang kendati seakan-akan tidak dipedulikan, dianggap menyusahkan, bahkan dikira punya maksud buruk atas dirinya? Tidak ada yang susah dan berat untuk itu semua! Yang mungkin susah adalah mengalahkan kesombongan dan sikap reaktif kita sendiri. Tapi bukan berarti tidak bisa. Kalau Musa pada waktu itu merasa risih atau terganggu dengan Harun dan Hur yang membantu menopang kedua belah tangannya, Israel tidak akan menang melawan Amalek. Musa harus memahami bahwa dirinya sendiri tidak akan kuat bertahan, memegang tongkat Allah di tangannya di atas bukit. Ia harus memahami bahwa Harun dan Hur itu berusaha melakukan apapun agar tangannya tetap terangkat dan Israel mendapat kekuatan dari Allah karena melihat tongkat-Nya. Tidak ada yang mempertanyakan segala daya upaya mereka itu karena kenyataannya itu memang mendatangkan kuasa Allah Mahatinggi. Demikian pula, kalau kita ditanya orang, mengapa terus juga berdoa dan memohon, terus terusan mendaraskan novena, mungkin bertahun-tahun meminta hal yang sama, maka seharusnya kita itu balik bertanya: "Mengapa tidak?" Kalau kita sungguh yakin bahwa permintaan kita itu sungguh-sungguh kita butuhkan demi hidup yang kita jalani ini, apapun juga akan kita lakukan supaya Tuhan berkenan mengabulkannya. Ada sementara orang yang tiba-tiba merasa 'tidak enak' karena doanya kok selalu meminta dan meminta, seakan-akan terus menerus 'merepotkan' Tuhan dengan permintaan mereka itu. Tapi sekali lagi, mau apa kita dengan detil-detil ilahi semacam itu? Mengapa pusing dengan pikiran Tuhan yang jelas tidak akan kita pahami? Benar bahwa kita harus percaya pada penyelenggaraan Tuhan, tetapi juga harus berani minta dan berusaha melakukan apapun agar Tuhan berkenan. Meskipun begitu, mari kita tetap jeli atas beberapa perbedaan, yakni antara sikap rendah hati dan manipulasi, antara kerelaan dan maksud tersembunyi, antara perjuangan dan pemaksaan. Bagaimanapun Yesus sudah meyakinkan kita bahwa Allah tidak akan berlambat, jika kita sungguh-sungguh berusaha melakukan apapun yang masih bisa dilakukan, dan tidak terlalu gengsi untuk selalu mencoba lagi. Kalau itu semua masih bisa kita usahakan, mengapa tidak? Amin. Pst. H. Tedjoworo OSC |