Konon mengukur daya tahan pelayanan orang zaman sekarang itu gampang. Tanggapi
saja dengan apatis, atau berilah reaksi yang negatif, maka sebentar saja
pelayanan mereka akan runtuh. Kekecewaan suka dilebih-lebihkan dari sisi
pribadi, sehingga kalau yang dialami tak sesuai dengan harapannya, orang mudah
mundur, menyerah, lantas menghakimi publik sebagai tak punya penghargaan, dan
seterusnya. Ah, siapa yang melayani dan siapa yang dilayani?
Masalahnya seringkali, orang tak pernah sungguh siap untuk melayani.
Kebanyakan masih hidup dalam ilusi bahwa 'saya' yang harus dilayani, harus
diperlakukan istimewa, bukan orang lain. Di pintu-pintu 'metro' (kereta api
bawah tanah) diberi petunjuk supaya memberi jalan kepada penumpang yang akan
keluar lebih dahulu. Tapi kenyataannya, mereka yang mau masuk justru berebut
dan tak peduli. Yang juga sering terjadi ialah kebiasaan tak mau antri.
Menyerobot itu bukti paling jelas bahwa orang menuntut keistimewaan. Apalagi
kalau ia punya posisi sebagai pejabat, misalnya. Contoh lain, ketika kita
memandang pekerjaan kita terlalu tinggi, lalu menuntut orang lain respek pada
kita. Bagaimana kalau mereka suatu saat tak setuju, menolak, atau tak tertarik
dengan 'kelebihan' kita? Sudah banyak yang tergoda untuk menuntut tanggapan
positif hanya demi 'kelebihan'nya. Kalau begitu, pelayanan hanya sebatas ide,
belum menjadi jalan hidup.
Kalau bukan Yesus yang ditanggapi dengan pahit dan kurang percaya pada waktu
itu, mungkin orang sudah akan mundur teratur. Bayangkan saja, sebentar setelah
jemaat yang besar itu takjub mendengar pengajaran-Nya, mereka sudah kecewa dan
menolak Dia. Mereka tidak menolak ajaran-Nya, tetapi kenyataan bahwa Yesus ini
tak lebih dari 'orang kita', salah satu dari antara kita, yang seharusnya
biasa-biasa saja. Mereka menolak identitasnya yang sekedar anak tukang kayu,
saudara dari orang-orang biasa saja. Siapa yang tidak sakit hati kalau
prestasinya dilecehkan hanya karena 'siapa' dia, 'suku' apa dia, 'anak siapa'
dia, orang 'macam apa' dia itu?
Memang benar, Yesus tidak mengadakan satu mukjizat pun di sana. Tetapi Yesus
tidak disebutkan berhenti melayani mereka. Ia tetap mengajar dari desa ke desa.
Ia tetap meletakkan tangan-Nya atas orang-orang sakit dan menyembuhkan mereka.
Jika 'mukjizat' tak terjadi, itu karena di antara mereka kurang ada iman, dan
bukan karena dari diri-Nya sendiri Yesus tidak mau menghadirkannya.
Alangkah sehari-harinya kejadian di dalam Injil hari ini. Godaan dan reaksi,
tantangan dan situasinya, benar-benar aktual, bahkan faktual, bagi kita di
zaman ini. Berapa kali kita berangkat kerja dengan antusias, dan di kantor
semangat kita hangus hanya gara-gara teguran dan perilaku atasan? Kapan saja
kita hadir di pertemuan lingkungan atau kelompok, dan pulang dengan sakit hati
hanya karena kecewa terhadap kebijakan para pengurusnya? Atau suatu kali
memimpin rapat dan pulang dengan marah hanya karena para anggota menolak agenda
yang kita tawarkan?
Bukan sekali dua kali terjadi, bahwa orang yang sebetulnya rajin dan baik
tiba-tiba menjadi ketus dan pemarah karena sebuah peristiwa yang
mengecewakan. Lantas alasan yang baik pula dipakai untuk membenarkan
kemarahan itu: "Bukankah saya hanya mau melayani kalian? Mengapa kalian
justru melawan dan menolak saya?" Nah, kita juga suka begitu,
mengatasnamakan sebuah 'kebaikan' untuk mendapatkan keistimewaan. Dan
keistimewaan itu sering begitu samar, berupa keinginan untuk ditanggapi juga
dengan baik, untuk disetujui, untuk dipuja-puji dan dikagumi, untuk diakui dan
dipercayai. Tapi tetap saja, itu semua privilege yang mau kita tuntut dari
pelayanan!
Menarik sekali kisah Paulus dalam bacaan I. Bahkan sampai tiga kali ia
memohon kepada Tuhan supaya mengambil duri dalam dagingnya, tetapi Tuhan
membiarkannya. Bisa dibayangkan bahwa Paulus akan menggunakan pelayanannya
sebagai alasan permohonan itu, tapi tetap saja tidak dikabulkan. Tuhan
menjawab, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahan
kuasa-Ku jadi sempurna!" Jadi? Ya. Jadi, Tuhan memang menghendaki ada duri
dalam daging kita, juga sekalipun itu akan mengganggu pelayanan kita dalam
nama-Nya! Dengan kata lain, jangan sekali-kali memakai iman, sedalam apapun,
untuk menuntut sebuah keistimewaan dari Tuhan.
Jika kita sampai pada pengertian itu, kita akan mengungkap sebuah rahasia
pelayanan seperti ditunjukkan oleh Yesus dalam Injil. Apapun reaksi orang
itu tidak penting. Jangan minta 'upah', sekalipun dalam bentuk antusiasme
dari para pendengar kita. Yehezkiel sudah diperingatkan, "entah mereka
mendengarkan atau tidak" (bac. I), "firman Tuhan harus
Kaukatakan!" Yesus
tidak mengurangi pelayanan-Nya, sekalipun dilecehkan identitas-Nya,
sekalipun ditolak dan ditinggalkan. Lihatlah setiap reaksi negatif itu
sebagai duri dalam daging, yang baik, yang perlu, bahkan yang sehat untuk
hidup iman kita!
Jadi, pelayanan Kristiani hanya dapat dihayati dengan sikap
anti-keistimewaan. Kalau tidak menuntut, kita pun tak perlu kecewa. Sebab,
bukan 'kelebihan' kita yang penting, tetapi sempurnanya kuasa Tuhan.
Rencana-Nya akan berhasil, di dalam 'kelemahan' kita. Amin.