“NGOMONG-NGOMONG, SIAPA YANG KAUMULIAKAN?” 2Raj 5:14-17; 2Tim 2:8-13; Luk 17:11-19 Coba perhatikan tanggapan orang yang kita beri ucapan terima kasih. Ternyata tidak seragam. Banyak orang yang, setelah kita bilang ‘terima kasih’, menjawab, “Ya”. Yang lain, berujar “Oke”. Tapi ada juga yang diucapi terima kasih malah kesal, “Ngapain sih bilang terima kasih terus, apa tidak ada kata-kata lain?” Lalu dari sekian banyak orang, ada sedikit yang dengan sadar membalas dengan tanggapan, “Sama-sama…” ataupun dengan kata-kata, “Terima kasih kembali”, sambil tersenyum manis. Mari kita melihat, betapa berbeda intensi dan ekspresi di balik semua jawaban itu, yang mencerminkan hal yang sama ketika mereka sendiri berterima kasih kepada orang lain. Ada sebuah keluarga yang berada, punya banyak pelayan di rumahnya. Tetapi yang menarik, anak-anak di rumah itu dibiasakan sejak kecil untuk berterima kasih kepada siapapun, terutama kepada para pembantu dan orang-orang kecil. Kepada pembantu yang menyiapkan makanan di meja makan, anak-anak terbiasa mengucapkan ‘terima kasih’ dengan tulus dan dengan tersenyum. Ketika diantar naik mobil, mereka tidak segera lari masuk ke halaman sekolah, tetapi berterima kasih dulu kepada sopirnya, dengan tersenyum dan menyebut namanya! Memang sungguh, kata’ terima kasih’ itu luar biasa. Ia membuat kita tidak lagi berpikir tentang diri-ku sendiri, milik-ku sendiri, hak-ku sendiri, tetapi bahwa ada ‘kita’, ada ‘engkau’, ada saudaraku yang lain, ada saudara, ada penolong, ada sahabat di sana. Kita bisa membayangkan bahwa Yesus ini pasti cari gara-gara. “Perjalanan-Nya ke Yerusalem menyusur perbatasan Samaria dan Galilea” bisa dianggap sebagai tindakan provokatif. Ia memprovokasi pandangan orang tentang ‘perbatasan’ dan permusuhan yang sudah bertahun-tahun antara orang Yahudi dan Samaria. Dengan begitu Ia cepat digolongkan sebagai ‘musuh’ oleh orang Samaria, karena tujuan-Nya jelas: Yerusalem. Orang Samaria tidak akan pergi ke Yerusalem. Tetapi, peristiwa penyembuhan sepuluh orang kusta ini menjadi sungguh-sungguh mengagumkan dari banyak segi. Yesus dipanggil sebagai ‘Guru’ dan dimohon untuk ‘mengasihani’ mereka; di antaranya adalah orang Samaria yang juga kena kusta. Dan masih juga, jawaban Yesus, setelah berhenti dan memandang mereka, sangat mengejutkan, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam”. Terbayang di benak orang-orang kusta itu, “Eh...imam-imam? Nanti dulu, imam-imam yang mana? Yang di Yerusalem (Yahudi) atau yang di Gunung Gerizim (Samaria)?” Tetapi mereka toh pergi juga, dan di tengah jalan terjadilah proses ketahiran mereka itu. Yang mengejutkan, untuk kesekian kalinya, setelah mendapati diri mereka tahir di tengah jalan, ternyata hanya satu orang yang tiba-tiba sadar, ‘siapa’ yang sesungguhnya menyembuhkan dia. Ia berpikir, “Bukankah Yesus tadi, dan bukan imam-imam (!), yang menyembuhkanku?” Maka ia berbalik arah, kembali, mencari-cari Yesus yang sedang menuju Yerusalem itu, dan memuliakan Allah serta berterima kasih kepada-Nya. Dia ini orang Samaria! Dia tahu bahwa sosok yang menyembuhkannya itu ialah orang yang perjalanan-Nya bertentangan dengan dirinya sendiri. Katakanlah, agama-Nya berbeda, jalan hidup-Nya berbeda. Dan orang ini, sekali lagi, telah menghadirkan Allah yang menyembuhkannya! Sungguh mengagumkan. Tidak ada kata lain. Orang kusta yang kembali untuk berterima kasih itu disadarkan, ‘siapa’ yang menyembuhkannya. Ketika disembuhkan, ia dibuat mampu berdamai bahkan dengan musuhnya, dengan dirinya sendiri, dibuat ‘lepas bebas’ dengan jalan hidupnya, dan menemukan betapa dahsyat Allah mengasihinya. Nah, siapa yang kita beri ucapan terima kasih? Orang-orang yang kita jumpai, atau Tuhan yang bersemayam dalam diri mereka? Naaman, dalam bacaan I itu, lambat mengerti bahwa ia seharusnya berterima kasih kepada Tuhan dan bukan hanya memberi serta memaksakan memberi hadiah kepada Elisa. Ia harus terus disadarkan oleh Elisa bahwa Tuhanlah yang pantas dimuliakan, dan bukan sang nabi. Ia tidak boleh memberi hadiah kepada Elisa, karena dengan begitu tidak akan mengerti bahwa di balik semuanya ini Tuhanlah yang bekerja dan menyembuhkan. Bagi kita sendiri, ngomong-ngomong, siapa yang kita muliakan? Kalau masih menganggap bahwa orang lain sudah sepantasnya melayani kita, kita itu belum dewasa. Ketika mulai belajar berterima kasih, kita akan makin tahu bahwa ada orang lain, ada hidup bersama, ada ‘kita’. Lebih lagi, saat menanggapi syukur orang dengan kata-kata ‘terima kasih kembali’, kita mengembalikan syukur itu kepada Sang Empunya Rahmat, dan bukan menikmatinya untuk diri sendiri. Dua hal sekurang-kurangnya kita pelajari hari ini. Kita diajak belajar untuk berterima kasih pada siapapun, termasuk mereka yang mungkin tidak kita sukai, karena Tuhan pun ada dalam diri mereka, untuk menyelamatkan kita. Kedua, arahkanlah ucapan terima kasih saudara kita kepada Tuhan yang berada di balik semua peristiwa rahmat; jangan pernah ‘mengambil untung’ dari rasa syukur siapapun! Amin. Pst. H. Tedjoworo OSC |
