"KERAJAAN-NYA
ADALAH MIMPI KITA JUGA!" Seseorang baru saja sembuh dari sakit berat. Untuk bersyukur atas kesembuhannya, ia ingin sebisa mungkin mengunjungi, menghibur, dan mendoakan orang-orang yang sedang sakit. Kini rasa syukur itu terasa lebih dalam lagi, karena ia sudah mengalami sendiri apa artinya berharap dan berdoa di kala sakit. Suatu kali ia mengunjungi seorang suster yang tubuhnya digerogoti kanker, dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. Ia duduk di samping tempat tidur, ikut merasakan kesakitannya. Di luar dugaan, suster yang menangkapa kerisauannya itu berkata, "Jangan sedih. Sungguh, saya sudah mengalami mukjizat. Dan mukjizat itu bukan berupa kesembuhan, melainkan bahwa saya bisa menerima semua ini dan menanggungnya." Mengagumkan. Bahkan di tepi kehidupan, suster itu masih yakin sudah diselamatkan. Ada banyak mimpi kita yang dirobek-robek oleh penyakit maupun musibah. Sebagian bahkan terbuang karena sebuah keputusan yang keliru dalam hidup kita. Namun masalahnya, apakah kita membiarkan semua itu hilang tertiup angin? Begitu juga, ada orang yang menyerah justru di saat-saat yang paling sulit hidup mereka, melepaskan apa yang selama ini sudah diperjuangkan mati-matian. 'Nasib' adalah kata berbahaya. Alangkah cepat diucapkan saat mimpi memudar. Lalu bagaimana dengan mereka yang selama ini berbagi mimpi dengannya? Bukankah mereka tetap ingin supaya ia selamat dan sehat kembali? Bukankah mereka tetap menyayangi kendati ia sedang terpuruk? Olok-olok dan cemooh sarkastis beterbangan di sekitar sosok Yesus yang tersalib. Itu semua diperburuk dengan tulisan "Inilah Raja Orang Yahudi". Tulisan 'raja' ini menjadi inspirasi empuk untuk menghujat Yesus habis-habisan. Sungguh menyenangkan bagi orang-orang itu menjadikan Yesus bulan-bulanan. Mengapa? Karena orang yang disebut-sebut 'raja' ini sudah jatuh dan digantung sebagai penjahat. Orang yang di mana-mana mewartakan Kerajaan Allah ini sudah gagal dan hancur. Kata-katanya sudah jelas tidak terbukti. Kerajaan Allah tak pernah terjadi. Tapi itu dari sisi mereka yang menyalibkan Yesus. Dari sisi Yesus sendiri? Kerajaan Allah 'sedang' dimulai, saat ini juga. Firdaus 'sudah' ada di sana. Salib adalah tahta-Nya. Duri, mahkota-Nya. Dan salah satu warga pertama kerajaan itu ialah penjahat yang berkata, "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Dan Yesus menjawab, "Hari ini, engkau sudah berada di Firdaus bersama-Ku!" Kata-kata terakhir Yesus itu menunjukkan bahwa mimpi-Nya akan Kerajaan Allah masih hidup dan menyala-nyala, bahkan di akhir hidup-Nya! Kerajaan itu sudah mulai 'dibangun' sejak Ia mewartakannya di jalan-jalan di Galilea hingga Yerusalem. Itu adalah mimpi-Nya yang takkan dirampas oleh siapapun, sekalipun itu Maut! Ia 'adalah' raja, karena sudah menjaga baik-baik kehendak Sang Bapa, yang sejak semula menginginkan kerajaan itu terwujud di muka bumi.
Sekarang, apa yang terjadi pada mimpi-mimpi kita? Barangkali sudah banyak
yang kita lepaskan, karena kita berpikir, sudah tidak mungkin lagi terjadi.
Tolong pikirkan kembali! Sekian puluh tahun hidup kita diisi perjuangan yang
luar biasa, dan alangkah panjang perjuangan itu berikut penderitaan dan
segala sakitnya. Sebagian besar hidup kita 'dihabiskan' untuk mengejar
mimpi-mimpi, dengan malam-malam yang gelap gulita dan teriknya siang hari
yang penuh dengan peluh. Ingatlah kembali segala pengorbanan dan kehilangan Ya. Hati kecil kita berteriak, "Tidak akan!" Tidak akan kita lepaskan harapan yang sudah sekian lama kita perjuangkan itu. Dan itulah kemenangan iman. Itulah yang ditunjukkan, diajarkan, oleh Yesus saat tergantung di kayu salib. Itulah juga yang membuktikan bahwa Kerajaan Allah sungguh-sungguh telah dimulai dan semakin berjaya. Kerajaan ini diam-diam meluas ke segala ujung bumi, setiap kali kita menolak untuk menyerah pada 'nasib', melawan godaan untuk bersikap sinis terhadap realitas hidup, membasuh mulut kita dari ejekan dan cemooh atas peristiwa kejatuhan saudara kita sendiri. Kalau kita masih sering bersikap 'nyinyir' terhadap kelemahan dan kegagalan saudara kita, itu bukti bahwa kita sendiri adalah orang yang gampang menyerah pada nasib. Kalau mulut kita suka 'membocorkan' kejelekan-kejelekan orang, bahkan yang tinggal serumah dengan kita, kepada orang lain, itu bukti bahwa kita memang sudah kehilangan mimpi dan harapan. Kalau kita 'selalu' mengeluh atas salib yang memang harus kita pikul, itu tanda bahwa kita tidak mengerti apa-apa tentang Kerajaan yang diperjuangkan Yesus sampai mati di salib.
Mari kita ingat komentar-komentar buruk di sekitar salib Yesus itu. Kita
mengingat kejadian itu, supaya kita sendiri lebih hati-hati, supaya kita
menemukan mukjizat keselamatan itu, karena mau memelihara dan terus
H. Tedjoworo OSC
Copyright@2010 |