"KAMI INI HAMBA-HAMBA YANG TAK BERGUNA"
Hab 1:2-3; 2:2-4; 2Tim 1:6-8.13-14; Luk 17:5-10

Kronologi kekerasan demi kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini ditampilkan
di koran. Masyarakat sedang frustrasi, katanya. Rasa keadilan tidak
terpenuhi, katanya. Melihat berita di televisi seperti menonton film horor.
Nyawa manusia melayang seperti debu tertiup angin. Tentu saja, orang akan
mencari, siapa yang salah di balik semua kejadian itu. Tapi aneh, tak ada
yang berubah. Tetap saja kekerasan merajalela, ditambah lagi orang-orang
yang membawa senjata ke jalan-jalan. Ketakutan lekas mengecilkan hati.

Sebut saja salah satu, yakni munculnya geng-geng motor itu. Benar-benar
tidak dapat dipahami apa yang sebetulnya mereka cari dengan meresahkan dan
menganiaya orang di jalan. Nah, sekarang, bagaimana kalau itu disebabkan
beberapa pihak yang rupanya kurang 'berfungsi'? Polisi kurang berfungsi
karena membiarkan gerombolan itu keluar ke jalan setiap malam.
Bengkel-bengkel kurang berfungsi karena menjual knalpot motor yang suaranya
memekakkan telinga. Tetangga kurang berfungsi karena tak peduli warganya
selalu keluar malam tanpa kerjaan. Keluarga kurang berfungsi karena membuat
anggotanya tak betah tinggal di rumah. Pemerintah kurang berfungsi memberi
rasa aman karena sedang sibuk menutupi laporan keuangan yang koruptif. Ah,
jadi benar, orang tak lagi melakukan apa yang 'seharusnya' dilakukannya.
Semuanya saling 'mengandaikan'.

Ini semua bermula dari iman. Yesus diminta oleh para rasul agar menambah
iman mereka. Tapi Yesus malah heran, bukankah iman sekecil biji sesawi pun
sudah luar biasa? Berarti ada yang salah dengan pengertian mereka tentang
'iman'. Mereka mengira bahwa iman itu lepas dari hidup sehari-hari yang
mereka jalani, seakan-akan itu hanya perbincangan di Bait Allah saja. Tidak.
Iman itu perkara hidup dan tugas setiap hari yang dijalani dengan percaya!

Yesus selalu menemukan sebuah nilai yang luar biasa di balik kejadian yang
nampaknya biasa. Ia bicara tentang kehidupan seorang hamba, yang sepertinya
sekedar melakukan apa yang 'harus' dilakukannya terhadap tuannya. Apakah
hamba itu tidak beriman karena hanya menjalankan kewajibannya? Sebaliknya.
Ia itu figur yang punya iman luar biasa meski hanya sebesar biji sesawi! Ia
tidak menuntut tuannya, tidak memaksakan apapun, tapi berani percaya pada
kebaikannya. Itu sebabnya ia melakukan tugasnya sebaik-baiknya, percaya!

Kata-kata ini sama sekali wujud kerendahhatian seseorang yang penuh
kesetiaan: "Kami ini hamba yang tak berguna; kami hanya melakukan apa yang
harus kami lakukan." Sebab, kita sendiri sering mau mengatakan yang
sebaliknya, "Saya ini orang yang sangat berguna; saya berhak dong,
mendapatkan tugas yang lebih baik lagi.."

Nah, kita baru sadar. Ternyata sudah berkali-kali kita memandang diri
sendiri terlalu hebat, lalu menggunakannya untuk menuntut atasan kita, orang
yang bekerja bersama kita, dan bahkan Tuhan sendiri, supaya kita diberi
pekerjaan yang lebih 'elit', lebih 'pantas' untuk kita. "Saya 'kan pinter,
seharusnya diangkat jadi manajer. Saya 'kan sudah senior, seharusnya sudah
pantas jadi Dekan. Suara saya 'kan bagus, jadi berhak untuk menyanyi sebagai
solis dong. Tuhan, Engkau memberi saya banyak bakat dan kelebihan, jadi
tolong, berilah saya kesempatan yang lebih bagus dari yang sekarang."

Rasa-rasanya tidak cukup iman yang kita temukan di situ. Yang ada adalah
seseorang yang tidak percaya dengan tugasnya yang sekarang, lantas
mencari-cari yang lebih diinginkannya sendiri. Habakuk, dalam bacaan
pertama, melukiskannya seperti orang yang terlalu banyak 'menuntut' Tuhan
tetapi kurang menjalankan apa yang sudah dipercayakan kepadanya. Seakan-akan
Tuhan harus cepat bertindak karena penindasan dan kelaliman yang merajalela
itu. Tetapi, Penyelenggaraan Ilahi mengatakan sebaliknya: Lakukan dulu
tugasmu dengan rendah hati, dan percayalah Tuhan pasti bertindak pada
waktu-Nya!

Ya, seandainya setiap orang memang menjalankan fungsinya, yakni apa yang
harus mereka masing-masing lakukan, banyak persoalan masyarakat tidak perlu
meresahkan lagi. Kita itu sering 'tidak sabar' dengan situasi yang tidak
ideal di depan mata kita, tetapi ini terbukti tidak akan membantu
sedikitpun. Dan ini sudah semestinya kita mulai dengan iman, iman yang meski
kecil, menandakan sebuah 'kerja sama' dengan Tuhan. Hal-hal yang besar hanya
akan terjadi karena Penyelenggaraan Ilahi. Tetapi, hal-hal kecil harus
ditekuni mulai dari tugas kita masing-masing. Sebenarnya menggelikan bahwa
kita suka 'tidak sabar' bahkan terhadap Tuhan sendiri. Siapakah kita ini
sehingga merasa lebih tahu kapan Tuhan harus bertindak?

Yesus pernah mengajar supaya kita setia dengan perkara-perkara kecil yang
dipercayakan-Nya kepada kita. Lakukan saja. Tak usah merasa hebat dengan
kepercayaan itu. Kadang-kadang kita perlu bersyukur atas tugas-tugas
sederhana yang menjadi tanggung jawab kita. Kalau itu pun dijalani dengan
sepenuh hati, dengan sebaik-baiknya, maka dunia ini sudah menjadi lebih
baik. Kita hanyalah hamba-hamba tak berguna, yang percaya bahwa Tuhan pasti
punya rencana luar biasa. Amin.

Pst. H. Tedjoworo OSC