"DIDAMPINGI, DINANTI OLEH IBUNDA"
Why 11:19a; 12:1-6a.10ab; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56

Orang Indonesia kadangkala heran sesaat kalau melihat seorang perempuan menjadi sopir bus, atau memimpin rapat di perusahaan tempat mereka bekerja, atau menjadi kapten kapal. Keheranan ini tidak harus ditafsirkan sebagai diskriminasi. Malah seringkali keheranan itu sebenarnya adalah wujud  kekaguman, ungkapan senang bahwa ada warna baru yang berbeda di profesi-profesi yang sudah sering didominasi oleh laki-laki.

Ungkapan 'warna yang berbeda' ini sebenarnya adalah sebuah rasa syukur, bahkan suatu kelegaan bagi sementara orang. Para lanjut usia, misalnya, akan bernafas lega kalau menjumpai bahwa pengemudi bus yang mereka naiki adalah seorang perempuan. Orang sudah dapat membayangkan, bahwa bus itu tidak akan dikemudikan dengan ngawur dan kasar. Memang tidak selalu demikian. Namun yang membuat perasaan orang menjadi 'beda' sebetulnya adalah 'karakter' yang dibawanya. Karakter ini, biasanya, lebih tenang, lebih lembut, lebih sabar dan memahami. Dan itu menjadi sangat didambakan orang-orang zaman ini, karena dunia ini sepertinya sudah terlalu maskulin, terlalu keras dan 'pemarah' terhadap mereka yang lemah.

Nyanyian Maria dalam Injil Lukas hari ini mungkin sudah kerap kita dengar, terutama pada peringatan-peringatan Maria dalam Gereja. Suka tak suka, setuju tak setuju, isi dari nyanyian ini akan terus menusuk ulu hati banyak orang Kristiani. Mengapa? Sebab Allah yang dipuja-puji di sini, bukanlah
Allah yang Mahaadil dan Mahakuasa, melainkan yang memutar balik takaran keadilan, mengganti ukuran yang kuat dan besar justru dengan yang kecil dan lemah, yang kaya dengan yang lapar, yang kuasa dengan yang tak diperhitungkan. Dalam lagu Maria ini, Allah tidak sesuai dengan logika serta
ideal tentang kebesaran dan kuasa. Bukan pedang, tetapi lengan yang terentang. Bukan hukuman dan sangsi, tetapi pengampunan dan hiburan.

Dan kritik yang luar biasa tajam itu dibawakan oleh Maria dalam sebuah nyanyian, karena rupanya begitulah seharusnya dunia ini diperbaiki, yaknidengan cara yang berbeda dari biasanya. Dalam hal beriman pun orang nampaknya masih terlalu 'maskulin' dan serba keras, sehingga ada saatnya perlu diingatkan bahwa karakter Allah sendiri malah mungkin tidak sekeras keputusan dan hukuman manusia terhadap saudaranya.

Maria telah menghadirkan Yesus di antara kita. Setelah Yesus naik ke surge di depan mata murid-murid-Nya, Maria tetap adalah manusia biasa. Dan ia pun melanjutkan hidupnya sebagai manusia biasa, namun dengan iman dan ketaatan yang luar biasa, seperti ketika menerima kabar gembira dari Gabriel. Mengapa? Karena sejak mengandung Yesus, Maria sudah menjadi murid yang pertama dari Putranya itu. Ia adalah orang Kristen yang pertama di dunia, yang tidak kehilangan kemanusiaannya. Ia adalah "milik Kristus" sesudah Dia yang sulung, seperti kata Paulus (bacaan I), yang dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Sayangnya, ketika Gereja berkembang dan murid Kristus bertambah banyak di dunia ini, orang menyangka bahwa "gada besi" (dalam kitab Wahyu; bacaan I)
adalah ukuran yang harus dipakai dalam beriman. Padahal 'gada besi' itu adalah Sabda Yesus sendiri, yang dalam ketegasannya, tidak perlu ditafsirkan sebagai kekerasan apalagi kekejaman. Kata-kata Yesus tidak pernah bertujuan menyakiti dan membunuh. Malah sebaliknya, kata-kata-Nya itu semata-mata untuk menghibur, menyembuhkan dan menghidupkan orang!

Jadi, mungkin benar, Gereja kita, kita yang beriman ini, berjalan ke arah yang benar tapi kerap membawa karakter yang keliru. Entah kita ini laki-laki atau perempuan, kita masih suka terlalu dingin dan kurang punya hati dalam hal beriman. Mungkin pikiran kita sudah dikuasai oleh klasifikasi yang terlalu kaku dan pengajaran yang terlalu dogmatis, sehingga yang lemah dan rendah hati malah terlalu sering dikalahkan.

Maka, penghormatan terhadap Maria yang diangkat ke surga, ke dalam persatuan dengan Kristus, ini sebenarnya adalah sebuah kritik yang pedas terhadap setiap kesombongan iman. Kita mengimani kebangkitan badan dalam syahadat iman, tetapi manakala menerapkan kriteria atasnya, kita lantas jadi diskriminatif dan memihak pada pikiran 'pantas dan tidak pantas' yang kita ciptakan sendiri. Sebab, kenyataannya Allah tidak berpikir seperti itu. Kenyataannya, Allah punya kriteria, seperti dalam nyanyian Maria, yang sebaliknya, yakni membela dan mengangkat mereka yang rendah, yang lapar, dan yang kecil. Kriteria-Nya adalah kerendahhatian!

Seharusnya, mulai kini, karakter 'ibunda' yang dikasihi Kristus itu mengubah cara kita mengemudi kendaraan, cara kita memimpin rapat, cara kita memperlakukan bawahan, cara kita melihat dan mendampingi siapapun. Beruntung bahwa kita diberi figur seorang 'ibunda' yang sudah membuktikan kesetiaannya dan yang kini menanti kedatangan kita untuk bersatu dengannya. Semoga kita bisa mewujudkan karakter yang diteladankannya, di manapun kita berada dan bekerja. Amin.

 

Pst. H. Tedjoworo OSC