"ANTARA HIDUP DAN
PERUT"
Kel 16:2-4.12-15; Ef 4:17.20-24; Yoh 6:24-35
Kadang-kadang, adalah hal yang menarik mengamati siapa saja yang suka
'berkunjung' ke dapur. Rupa-rupanya, bukan koki yang berkuasa di sana. Lebih
sering, yang kelihatan sibuk, dan kelihatan penting, adalah orang-orang yang
tidak ada hubungannya sama sekali dengan masak memasak. Alhasil, jika kita
sekali waktu bertanya kepada koki, mungkin akan segera keluar
keluhan-keluhannya terhadap mereka yang datang ke dapur hanya untuk mengganggu
pekerjaannya. Sayangnya, mereka ini pun tak sadar sudah mengganggu orang.
Demikian juga, mereka yang 'suka' masuk ke dapur itu kebanyakan bukan karena
lapar. Kebanyakan punya motivasi yang bukan soal perut. Mungkin ada 'lapar'
jenis lain, karena merasa kesepian di kamar, karena berharap bertemu teman,
karena ada sosok yang diharapkan ditemui di sana, karena menghindari pekerjaan
yang tak selesai-selesai, karena ingin berkuasa di sebuah tempat. Sebut saja.
Mungkin orang lupa, dapur adalah tempat yang menyangkut kehidupan, tapi
dianggap sekedar tempat memasak. Dan ironisnya, orang mencari-cari sesuatu yang
bukan soal hidup di sana, tapi hanya menyangkut kepuasan, kesenangan,
pelampiasan.
Waktu itu banyak orang mengejar-ngejar Yesus dan para murid-Nya sampai ke
Kapernaum, di seberang laut. Semangat sekali! Tapi semangat ini mencurigakan.
Yesus segera menangkap semangat oportunistis itu, dan menegur mereka dengan
pedas, supaya bekerja, mencari rezeki untuk hidup yang kekal. Tak mau kalah,
mereka bereaksi dan minta tanda yang membuat Yesus berhak menegur mereka
seperti itu. Dan Yesus membongkar hedonisme jasmani mereka, mengajak untuk
jujur terhadap realitas yang lebih menyakitkan: lapar akan Tuhan.
Injil Yohanes akan mengingatkan kita, bahwa kepercayaan akan Yesus sebagai roti
sumber hidup tidak hanya mengundang percaya, tapi juga kekecewaan dan reaksi
tak suka. Kenyataannya, tidak mudah menerima Dia sebagai satu-satunya sumber
hidup, makanan rohani yang mengenyangkan. Bukan hanya orang-orang waktu itu,
tapi kita juga, sering merasa tidak cukup dengan apa yang sudah didapat dari
Yesus, lantas mengejar apa yang tidak semestinya kita cari dari-Nya. Susahnya,
kita itu mencari kepuasan, bukan keabadian.
Teguran Yesus itu seakan-akan berbunyi, "Engkau sudah kenyang oleh roti
dan ikan, tapi kalau hanya untuk itu datang ke sini, engkau mencari di tempat
yang salah." Orang-orang ini tidak berpikir mengenai hidup mereka. Mereka
hanya berpikir soal perut. Dan 'perut' adalah kesenangan, kepuasan, dan
keuntungan yang bisa didapatkan saat ini. Ini masih jauh dari sikap serius
untuk melihat dan menghargai hidup!
Perhatikanlah bacaan pertama dari Kitab Keluaran. Orang-orang Israel menggerutu
karena merasa dijebak oleh Musa hingga berada di padang gurun tanpa makanan
yang mencukupi. Isi kepala mereka hanya soal makan kenyang, sampai-sampai
menuduh Musa hendak membunuh mereka karena kelaparan. Hal yang lebih penting,
yakni kebebasan dari Mesir, dan masa depan sebagai bangsa yang merdeka, kalah
oleh bayangan kuali penuh daging yang mereka hadapi saat masih jadi budak di
Mesir! Maka Tuhan menurunkan makanan yang akan membuat mereka bertanya-tanya,
"Apakah ini?" (Ibr. 'manna'). Ya, mereka ini hanya akan 'kenyang'
jika mereka percaya bahwa embun beku ini adalah sungguh-sungguh makanan, sumber
hidup dari Tuhan.
Sering terjadi, kita itu mencari-cari dan berdebat mengenai hal-hal yang kurang
penting. Kita sibuk, bekerja keras, menikmati hari, menjalankan tugas,
menghabiskan uang, menghabiskan waktu, tetapi untuk hal-hal yang tidak membuat
kita lebih berterima kasih atas hidup yang kita dapatkan ini, lebih dekat pada
Dia yang membuat hidup kita masih pantas untuk disyukuri
sampai saat ini. Kita masih mengejar-ngejar hal-hal yang menyenangkan saja, termasuk
semua yang duniawi dan gemerlapan itu, dan itu juga bahkan terjadi ketika kita
berdoa, melayani, dan berkumpul bersama saudara-saudari seiman. Betulkah hanya
kepuasan dan kesenangan macam itu yang kita cari?
Ketika terus mencari-cari hal-hal yang bukan soal hidup, kita seperti orang
yang masuk di tempat yang salah di Gereja. Mungkin bahkan kita hanya merepotkan
orang-orang yang berada di sana, karena mementingkan hal-hal yang memuaskan
diri kita saja. Menjadi pengikut Kristus seharusnya membuat kita lebih jujur,
apa sebetulnya yang kita cari di sini? Apa yang kita cari dalam diri Yesus? Apa
yang kita harapkan dari saudara-saudari kita di sana?
Sebelum menjawabnya, mari belajar jujur dengan lapar dan haus yang kita
rasakan, yang kita alami saat ini. Sekali kita mau jujur terhadap kerinduan
kita, kita akan belajar untuk percaya, bahwa banyak peristiwa, sahabat,
pekerjaan, dan kesempatan di sekitar kita itu ada di sana supaya kita menemukan
Dia yang adalah sumber hidup. Dia adalah roti yang menawarkan diri-Nya untuk
kita nikmati di dalam peristiwa, sahabat, pekerjaan, dan kesempatan yang serba
riil itu. Temukanlah Dia, dan nikmatilah. Dia akan terus 'mengenyangkan' kita,
dan kita pun takkan haus dan lapar lagi. Amin.