PERCAYA, DI
TENGAH-TENGAH BADAI Ayb 38:1.8-11; 2Kor 5:14-17; Mar 4:35-41
Batas kebingungan tiap orang tentu tak sama. Ada yang terbiasa tak acuh,
cenderung bersikap 'dingin-dingin' kalau menghadapi situasi sulit. Mau
ditimpa bencana seperti apa, tetap saja tidak secepat rata-rata orang lain
bereaksi. Akibatnya, jadi serba terlambat untuk melakukan sesuatu, baru
sadar setelah kehilangan segalanya. Tapi sebaliknya, ada yang gampang
sekali ketakutan karena hal-hal yang sebetulnya tidak terlalu riskan.
Baru juga diberhentikan oleh polisi, sudah berkeringat dingin dan merasa
langit
runtuh, merasa berdosa besar dan akhirnya terus-terusan salah bicara.
Orang yang mudah bingung, akan sering bergumam, "Mati aku!" Ya.
Bingung itu disamakan dengan kondisi tak ada pilihan. Bingung sama
dengan kalah, dan 'pasti' akan hancur lebur. Kita sudah memastikan
sendiri apa yang akan
terjadi dengan diri kita manakala menghadapi kejadian yang tak terduga.
Studi tidak lulus, pekerjaan tidak sesuai target, perkiraan yang salah sama
sekali, relasi yang berantakan, terpuruk setelah jadi korban kejahatan, dsb.
Pada saat itu, kita putus harapan dan berseru, "Mati aku!" Dan
seberkas
celah kecil pilihan, tidakdapat kita lihat lagi. Pintu ditutup. Case closed.
Tuhan sudah tidur.
Terbayang saat itu, Yesus seperti selebriti. Ia dikejar-kejar banyak orang,
ke manapun Ia menuju. Sepanjang hari. Terkadang Ia harus mengambil jarak
dengan cara naik ke perahu, supaya jangan sampai terhimpit oleh banyak
orang itu. Tapi ketika hari sudah petang, Ia pun lelah. Ia mengajak
murid-murid-Nya bertolak ke seberang. Hanya saja, nampaknya tidak semua
murid-Nya setuju. Sebab langit sudah kelihatan tak ramah, dan angin
menebarkan hawa gelap, akan ada badai di danau. Tapi mereka berangkat
juga.
Dan memang benar, badai itu datang. Gelombang danau begitu menggila dan
membuat gemetar. Tapi Yesus, karena kelelahan, tidur di dalam perahu,
sementara para murid seakan-akan sudah menyentuh tepi kematian. Tak ada
usaha yang berarti di depan kuasa alam. Mereka bingung, bukan pasrah,
lalu membangunkan Yesus, "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?"
Entah mengapa, kita seperti diingatkan, bahwa semuanya itu seolah-olah
pengalaman kita sendiri. Ya, pengalaman ketika kita bingung, merasa
hancur di depan sebuah kenyataan yang tak pernah kita harapkan. Dan
teriakan itu, seperti sebuah gumam yang sering kita tuturkan, "Apakah
Tuhan tidak peduli bahwa aku akan binasa? Apakah masih ada 'seseorang'
di atas sana? Mengapa aku harus menelan semuanya ini mentah-mentah?"
Aha, kita 'membutuhkan'
Tuhan untuk dipersalahkan, atau 'membutuhkan' orang lain yang lebih
beruntung untuk kita sindir-sindir dengan pelbagai ironi.
Ayub pernah mengalaminya (bac. I). Ketika semua penderitaan yang paling
buruk menimpanya, ia mulai bertanya, di manakah Tuhan. Ia sempat terbawa
perasaan, ketika teman-temannya menyindir-nyindir Tuhan dalam kata-kata
mereka. Namun jawaban Tuhan menggelegar dari dalam badai, di depan
kata-kata manusia itu. Intinya, manusia tidak tahu apa-apa, dan dalam
keputusasaan, mereka menjadi congkak seperti gelombang laut. Mereka
bukannya belajar percaya, malah membuat keadaan menjadi lebih buruk
daripada sebelumnya.
Perhatikanlah kata-kata Yesus kepada badai yang ganas. Ia 'berbicara'
kepada badai itu, "Diam. Tenanglah!" Lalu angin itu reda, dan danau
menjadi
teduh. Tidak ada usaha yang lebih baik lagi dalam situasi kebingungan,
selain kata-kata yang menenangkan gejolak, meredakan kecongkakan. Ada
banyak badai yang pasti akan terjadi dalam hidup kita, dalam relasi dan
usaha kita. Dan jika itu harus terjadi, maka itu akan terjadi, entah
kita setuju atau tidak. Tapi hanya ada satu sikap yang paling tepat
sebagai orang yang beriman: percayalah. Tidak usah panik. Tidak usah
bingung, apalagi sampai menyindir-nyindir Tuhan, mempertanyakan
kepeduliannya atas situasi kita.
Jadi bukan 'tidur'-nya Yesus yang membuat keadaan menjadi parah pada
waktu itu, melainkan kecongkakan para murid sendiri yang telah menutup
sebuah pilihan untuk percaya. Jadi pertanyaan Yesus itu sungguh tepat,
"Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Ya. Mengapa
kita begitu bingung setiap kali mengalami badai yang memang harus
terjadi? Kita jelas tak punya jawaban untuk 'menyelesaikan' badai itu,
tapi kita sebetulnya punya iman untuk bersabar sebentar, untuk menahan
diri hingga Tuhan bertindak. Jadi, bukan kita, tapi Tuhan yang akan
bertindak. Kita hanya perlu menunggu. Apa sulitnya menunggu Tuhan
bertindak?
Yang paling menggelikan dalam hidup kita ialah ketergesaan kita sendiri.
Kita mau semua yang sulit itu cepat selesai. Menggelikan, karena kita
sendiri memperparah situasi yang kita hadapi. Seharusnya iman kita itu
mempersilakan Tuhan menjalankan rencana-Nya untuk hidup kita. Dan
rencana-Nya memang yang terbaik untuk kita! Jadi, kita itu hanya perlu
menjalani semua kesusahan dengan percaya. Itu berarti, "Diam.
Tenanglah!" Jalani saja. Nanti badai akan reda. Percaya berarti rendah
hati. Jangan tergesa-gesa. Waktu adalah iman. Tuhan sudah menyediakan
jawaban, pada waktu-Nya. Amin.